Bangun Kereta Cepat, China Perluas Pengaruh Politik & Ekonomi di ASEAN?

Kereta Cepat China - kumparan.comKereta Cepat China - kumparan.com

TOKYO – China saat ini getol membangun kereta api cepat di Asia Tenggara. Semakin banyak transportasi antar-negara di ini dinilai mampu memperluas kontak manusia dan di antara mereka, yang pada akhirnya akan mulai membawa pengaruh China daratan ke negara-negara kecil di , termasuk soal kedaulatan Laut China Selatan dan sektor ekonomi.

Dilansir Nikkei, Beijing dikabarkan telah berhasil mendorong jalur kereta api berkecepatan tinggi di Thailand bagian utara. Kesuksesan Negeri Panda datang ketika perusahaan dagang asal Jepang, Itochu, dan pembuat kereta api Hitachi menarik diri dari tender 7 miliar untuk proyek kereta api berkecepatan tinggi di Bangkok.

Ambisi kereta cepat China di Asia Tenggara tidak berhenti di Negeri Gajah Putih. Di bawah jaringan kereta api pan-Asia yang direncanakan memiliki jalur 3.000 km, rel kereta api Negeri Tirai Bambu akan meluas lebih jauh ke selatan, membentang melalui Malaysia dan Singapura. Singapura sendiri dinilai sebagai negara paling maju di ASEAN, dan memiliki proyek di negara ini akan memberikan nilai tersendiri bagi China, mengingat persaingan mereka dengan AS.

“Jika Beijing dapat membawa proyek ke Singapura, itu kemungkinan berarti bahwa Singapura dapat mengurangi hubungan keamanannya dengan AS, sekaligus memberi Beijing lebih banyak ruang untuk beroperasi di Asia Tenggara,” kata profesor senior di Universitas Kristen Internasional di Tokyo, Stephen Nagy. “Itu bisa berarti bahwa ASEAN akan menjadi lebih menerima tuntutan China, seperti mengendalikan Laut China Selatan.”

China biasanya memberikan pinjaman, bukan hibah, untuk proyek asing, dan lantas mengambil alih proyek jika penerima tidak mampu membayar utang mereka, seperti yang terjadi pada pelabuhan di Sri Lanka. Contoh semacam itu telah mendorong kritik di negara-negara Barat dan mereka menuduh China mempraktikkan ‘diplomasi utang’.

“Tiongkok akan terus memiliki kapasitas yang signifikan untuk membiayai investasi infrastruktur di luar negeri dalam waktu dekat,” prediksi peneliti senior Ekonomi Internasional di Institut Peterson, Washington, Nicolas Veron. “Meski mereka menghadapi tantangan demografis, seperti negara-negara lain di kawasan Asia, potensi pertumbuhan China masih tinggi.”

China memang telah tertarik untuk mengembangkan pengaruh dan telah berinvestasi besar-besaran ke arah barat menuju Asia Tengah dan Tenggara. Inisiatif Belt and Road senilai 1 triliun dolar AS dirancang untuk menciptakan infrastruktur transportasi bagi Tiongkok, dengan tujuan mengimpor energi dan sumber daya vital lainnya, serta mengekspor barang ke negara lain tanpa tergantung wilayah pesisir.

Banyak hal berubah ketika negara ini datang dengan uang, tenaga kerja, dan . Visi jaringan kereta api pan-Asia telah disambut dengan penuh semangat oleh negara-negara ASEAN yang mencari sepotong kue dari China, meskipun akses ke luas Tiongkok bergantung pada pilihan negara-negara yang mengikuti garis kebijakan Beijing.

Laos, negara kecil yang diklasifikasikan sebagai ‘negara paling tidak berkembang’ oleh PBB menerima pelukan China dengan sepenuh hati. China telah mendukung proyek kereta api berkecepatan 160 km per jam di negara itu, yang akan membentuk kaki pertama jaringan kereta api pan-Asia. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, rute 417 km akan menghubungkan ibukota Laos di Vientiane ke kota Kunming, di China bagian selatan.

Meski demikian, medan daratan Laos menjadi tantangan tersendiri. Jalur kereta api akan membutuhkan 167 jembatan dan 75 terowongan untuk menembus negara pegunungan itu. Sementara, para kritikus memperingatkan risiko utang Laos sebagai bukti bahwa negara itu bisa dalam kondisi bahaya. Biaya proyek kereta api dibagi antara China dan Laos sebesar 7:3. Tetapi, Laos harus meminjam 480 juta dolar AS dari Export-Import Bank of China dengan suku bunga 2,3%.

Pada bulan Maret kemarin, Center for Global Development yang berbasis di AS memperingatkan tentang ketergantungan negara itu pada China. Mereka merujuk Laos sebagai salah satu dari delapan negara dengan rasio utang tertinggi terhadap China di antara 68 negara yang didanai di bawah Inisiatif Belt and Road. IMF memperingatkan bahwa proyek itu mungkin mengancam kemampuan negara untuk melunasi utangnya.

Tetapi, di seberang perbatasan timur Laos, tepatnya di Vietnam, sikap terhadap proyek kereta api yang didanai China berbeda. Vietnam memang tidak akan memprotes sistem kereta api berkecepatan tinggi Laos-China, demikian ujar seorang mantan pejabat senior pemerintah Vietnam. Namun, selain pembangunan ekonomi, perlu dipikirkan kedaulatan nasional anggota ASEAN, khususnya negara-negara tetangga. “China ingin memiliki pengaruh ekonomi di setiap wilayah secara global,” kata mantan pejabat itu.

Loading...