Bangkit di Detik Akhir, Rupiah Menguat Super Tipis

Rupiah menguat tipis pada penutupan transaksi Senin (17/12) sore - metrobali.com

JAKARTA – Tertekan sepanjang perdagangan, ternyata mampu bangkit di detik akhir untuk naik ke zona hijau pada penutupan Senin (17/12) sore, saat indeks diburu sebagai aset safe haven. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda berakhir menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp14.580 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.617 per dolar AS, terdepresiasi 79 poin atau 0,54% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.538 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tampil perkasa melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,19% menghampiri peso Filipina.

Dari pasar , indeks dolar AS masih bertahan di dekat level tertinggi 19 bulan pada hari Senin, didukung pembelian aset safe haven karena meningkatnya kekhawatiran pertumbuhan global, yang lantas mengurangi selera untuk aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,031 poin atau 0,03% ke level 97,412 pada pukul 11.21 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, data ekonomi China dan Eropa yang lebih rendah dari perkiraan ekonom, serta kekhawatiran kemungkinan US government shutdown, membuat ‘berlari’ meninggalkan saham Asia dan yen Jepang. Mereka pun memburu dolar AS, yang sering dianggap sebagai aset menarik selama ada tekanan di pasar global.

Terlepas dari kekhawatiran perlambatan ekonomi global, pasar juga berfokus pada kemungkinan lintasan kebijakan moneter AS. diperkirakan akan menaikkan sebesar 25 basis poin pada pertemuan dua hari yang dibuka Selasa (18/12) waktu setempat. Sebelumnya, bank sentral AS sudah menaikkan delapan kali sejak Desember 2015, dalam upaya untuk memulihkan kebijakan ke pengaturan yang lebih normal.

Dengan kenaikan yang sebagian besar telah diperhitungkan, pergerakan untuk dolar AS akan tergantung kebijakan The Fed di masa depan. Menurut proyeksi mereka pada bulan September kemarin, pandangan median di antara para pembuat kebijakan adalah tiga kenaikan suku bunga pada 2019. Namun, suku bunga berjangka yang digunakan untuk mengukur kemungkinan kenaikan lebih lanjut hanya menghitung satu kenaikan pada tahun depan.

Komentar terbaru oleh pejabat The Fed juga telah dibaca sebagai dovish oleh beberapa analis. Bulan lalu, Gubernur Jerome Powell mengatakan suku bunga mendekati kisaran perkiraan netral, tingkat yang tidak merangsang atau menghambat ekonomi. “The Fed kemungkinan besar akan pindah dari mode auto-pilot menjadi data dependen,” ujar kepala strategi mata uang di NAB di Sydney, Ray Attrill.

Loading...