Bali Terapkan Zona Hijau Undang Turis Asing, Thailand Rilis Eksperimen ‘Kotak Pasir’

Pesona Wisata Bali - www.agoda.comPesona Wisata Bali - www.agoda.com

BANGKOK/JAKARTA – Setelah terpuruk akibat pandemi COVID-19, mulai 1 Juli 2021, akan melakukan ‘eksperimen kotak pasir’, menggunakan Phuket sebagai tempat pengujian untuk menyambut pengunjung asing yang divaksinasi tanpa masa karantina. Sementara itu, , yang ekonominya sama-sama bergantung pada , berencana untuk menetapkan tiga wisata populer sebagai ‘zona hijau’ COVID-19, yang dapat dibuka kembali dengan protokol kebersihan yang ketat.

Seperti diwartakan Nikkei, Phuket, sebuah resor paling terkenal di Thailand, telah dibuat bertekuk lutut oleh langkah-langkah pengendalian perbatasan untuk menahan penyebaran COVID-19, menutup kedatangan turis asing yang menjadi sumber kehidupan lokal. Namun, jika semua berjalan dengan baik, mulai bulan depan, beberapa orang mungkin kembali menyambut ribuan turis dalam inisiatif yang tidak biasa, memagari resor dan menjaganya agar tetap bebas dari virus corona.

Persyaratan Thailand dalam sebuah inisiatif yang dijuluki ‘kotak pasir’ sangat ketat. Wisatawan harus tiba dengan penerbangan langsung dari -negara dengan risiko infeksi rendah hingga sedang. Mereka harus divaksinasi penuh setidaknya 14 hari sebelum keberangkatan dan menunjukkan hasil tes negatif dalam waktu 72 jam. Jika dapat memenuhi, turis diizinkan untuk bergerak bebas di Phuket pada saat kedatangan. Kemudian, jika tes pada hari kelima masa inap menunjukkan negatif, mereka akan diizinkan melakukan perjalanan sehari ke luar pulau.

Otoritas Pariwisata Thailand memperkirakan ada 129.000 pengunjung asing dalam tiga bulan pertama percobaan ‘kotak pasir’, dengan pasar jarak jauh sebagai target utama. Jika percobaan berhasil, wisatawan yang divaksinasi di Phuket akan diizinkan untuk bepergian ke tempat-tempat seperti Bangkok, Chiang Mai, Pattaya, dan Krabi mulai Oktober mendatang dan bepergian secara bebas keliling Thailand mulai 2022.

“Kami telah mempersiapkan diri sejak tahap awal pandemi COVID-19,” kata Suphajee Suthumpun, CEO Dusit Thani Group. “Sebagian besar staf hotel Dusit Thani Laguna Phuket telah divaksinasi. Selanjutnya, kami juga telah meminta semua karyawan kami dan keluarga mereka untuk mendaftar vaksinasi, dengan tujuan membangun kepercayaan di antara dan staf.”

Pada pertengahan Mei kemarin, Central Phuket Mall, yang dioperasikan oleh raksasa ritel Central Pattana, menjadi mal pertama di Thailand yang mencapai tingkat kekebalan kawanan atau herd immunity dengan menginokulasi 85% staf. Sementara itu, Asosiasi Maskapai Thailand mulai memvaksinasi 15.970 karyawan yang bekerja untuk tujuh maskapai penerbangan negara itu.

Pariwisata dan bisnis terkait dulunya menyumbang 20% ​​dari ekonomi Thailand di masa sebelum COVID-19. Namun, khusus untuk Phuket, proporsinya hampir 50%. Pariwisata akan memainkan peran kunci dalam menghidupkan kembali ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara tersebut, yang menyusut 6,1% pada tahun 2020.

Namun, berbeda dengan kegembiraan dalam pemerintahan dan industri pariwisata, penduduk setempat malah menyuarakan keprihatinan. Seorang pria yang bekerja di dunia pendidikan mengatakan bahwa banyak penduduk di Phuket khawatir tertular virus dari pengunjung asing. “Semua mengatakan bahwa Phuket sudah siap. Namun, saya tidak yakin bahwa Phuket siap dibuka untuk orang asing,” katanya, tanpa mau disebutkan namanya.

Pemerintah Thailand sendiri menargetkan untuk memvaksin 70% penduduk Phuket sebelum Juli. Wakil Gubernur, Pichet Panapong, meminta kepala kota dan kepala desa untuk melakukan kunjungan dari pintu ke pintu, mendorong warga untuk mendapatkan vaksin. Namun, dengan beberapa kluster yang muncul secara nasional, gelombang virus corona ketiga dapat mempersulit dan diperdebatkan pihak berwenang untuk mengalokasikan cukup vaksin ke pulau itu.

Sementara itu, di Bali, banyak penduduk lokal juga sangat menginginkan turis untuk kembali. Dibandingkan Thailand, Indonesia memang kurang bergantung pada pariwisata, yang berkontribusi 5,7% terhadap PDB pada 2019. Namun, kasus berbeda terjadi pada Bali, yang melihat ekonominya hancur gara-gara penutupan pariwisata akibat COVID-19. Kontraksi PDB-nya sebesar 9,3% pada tahun 2020, merupakan yang terdalam di antara 34 provinsi di Indonesia.

Tingkat hunian hotel telah melayang sekitar 10%. Angka pada Februari 2021 menunjukkan 657.000 pekerja, atau 19% dari populasi usia kerja pulau itu, terkena dampak pandemi dalam beberapa hal, termasuk diberhentikan dari pekerjaan mereka. Para pejabat mengatakan bahwa pada puncak pandemi, provinsi itu kehilangan Rp9,7 triliun setiap bulan.

Namun, harapan datang dengan dua skema besar untuk membawa kembali turis ke Bali. Pertama adalah program ‘Work from Bali’ untuk mengirim hingga 8.000 PNS yang berbasis di Jakarta ke pulau itu. “Ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menciptakan permintaan agar hotel dan restoran di Bali dapat bertahan,” terang Odo Manuhutu, Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kepada wartawan pada akhir Mei kemarin.

Yang kedua adalah kedatangan wisatawan asing, dengan menetapkan Ubud dan dua kawasan wisata populer lainnya, yakni Sanur dan sebagian Badung, sebagai ‘zona hijau’ COVID-19 yang dapat dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang lebih ketat. Sebagai bagian dari rencana, pemerintah bertujuan untuk menginokulasi 2,8 juta penduduk Bali berusia 18 tahun atau lebih, lebih dari 60% dari populasi pulau itu, pada akhir Juni 2021.

Seperti di Thailand, wisatawan juga kemungkinan akan menghadapi persyaratan kesehatan yang ketat, termasuk vaksinasi penuh sebelum kedatangan dan karantina mandiri selama lima hari di hotel yang ditunjuk, dengan aplikasi untuk melacak setiap pengunjung dikabarkan akan segera diluncurkan. Pejabat pemerintah menekankan bahwa setiap pembukaan kembali bergantung pada kasus virus corona yang ditekan, sesuatu yang tampaknya hampir dicapai Bali, dengan kasus baru setiap hari dalam tren menurun setelah memuncak pada akhir Januari.

Banyak warga dan pemilik usaha mendukung rencana zona hijau. Christia Permata Dharmawan, direktur Kebon Vintage Cars, museum dan tempat hiburan di Denpasar Timur, menuturkan bahwa masuk akal untuk menguji ‘zona hijau’ di Bali. “ Ini agar wisatawan tidak takut datang ke sini, dan mereka merasa disambut mereka dengan tangan terbuka. Yang penting mereka bisa mempercayai Bali,” katanya.

Meski demikian, tidak sedikit ahli yang tetap skeptis. Menurut Dicky Budiman, peneliti keamanan kesehatan global di Griffith University di Australia, tidak ada yang namanya ‘zona hijau’ seperti yang disebut-sebut di Bali. Dikatakannya, saat kita membuka pintu untuk pendatang baru, masyarakat tidak lagi aman karena akan memperkenalkan varian baru. “Zona hijau Bali sama sekali tidak layak,” tandasnya.

Hampir senada, Gusti Ngurah Mahardika, pakar virus dari Universitas Udayana di Bali, mengatakan bahwa hampir tidak mungkin untuk membuka hanya tiga area untuk wisatawan sebagai zona hijau, karena populasi di Bali dinamis. “Yang harus dipikirkan pemerintah adalah menjadikan seluruh Bali sebagai zona hijau, sehingga kita benar-benar dapat membuka perbatasan kita dengan aman,” jelasnya.

Loading...