Bakal Dipulangkan ke Myanmar, Pengungsi Rohingya Kabur dari Kamp

Pengungsi Rohingya - www.amnesty.org.auPengungsi Rohingya - www.amnesty.org.au

BANGLADESH/MYANMAR – Meski ada peringatan dari dan bantuan terkait , tahap akhir rencana repatriasi minoritas dari Bangladesh kembali ke Myanmar akan dimulai pada pertengahan November ini. Meski ada lebih dari 2.000 orang yang dilaporkan sukarela kembali ke Myanmar, namun masih banyak pengungsi yang takut pulang ke desa mereka.

Seperti diberitakan DW, pada bulan Oktober 2018, sebuah misi pencarian fakta PBB mengatakan bahwa ‘genosida yang sedang berlangsung’ masih dilakukan di Myanmar terhadap Rohingya, kelompok minoritas Muslim yang tinggal di bagian Rakhine. Ini membuat sebagian besar pengungsi takut pulang kembali ke mereka.

Pihak berwenang Bangladesh memang mengatakan bahwa hanya mereka yang secara sukarela yang akan dikembalikan ke Myanmar. Sejauh ini, sudah ada lebih dari 2.000 orang yang berencana untuk kembali dari pengungsian. Tetapi, PBB menuturkan bahwa banyak pengungsi yang takut kembali, yang membuat mereka melarikan diri dari kamp pengungsian.

“Kami telah memperhatikan berita hilangnya sejumlah Rohingya dari kamp-kamp,” ujar Joseph Surja Tripura, petugas publik untuk Badan Hak Asasi Manusia PBB (UNHCR), kepada DW. “Kontrak antara Myanmar dan Bangladesh mengatakan bahwa tidak ada orang bisa ‘dipaksa’ untuk pulang dan kami telah mencoba mencari tahu apakah semua orang kembali dengan sukarela.”

Sejak Agustus 2017, lebih dari 700.000 warga Rohingya meninggalkan rumah dan desa mereka di Rakhine menuju Bangladesh setelah kampanye berdarah yang dilakukan oleh militer Myanmar, menyusul serangan oleh gerilyawan Rohingya terhadap pasukan keamanan. Menurut penyelidikan menyeluruh oleh Amnesty International, orang-orang yang selamat menguraikan adanya pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, dan pembakaran desa yang dilakukan pasukan keamanan Myanmar.

PBB telah menyebut kampanye itu sebagai ‘definisi buku teks tentang pembersihan etnis’. Pada bulan Desember 2017, Doctors Without Borders (MSF) merilis sebuah laporan yang menguraikan bahwa pada tahun 2017, antara 25 Agustus hingga 24 September saja, diperkirakan 6.700 orang, termasuk 730 anak-anak, tewas sebagai akibat dari ‘operasi pembebasan’ di Rakhine.

Pada awal 2018, Myanmar dan Bangladesh mulai merundingkan kesepakatan repatriasi yang menjabarkan kembalinya Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar sejak 2016. Karena orang Rohingya dianggap tidak memiliki kewarganegaraan, orang asing ilegal, dan tidak diberikan kewarganegaraan, maka repatriasi hanya memiliki efek terbatas dalam mengurangi penderitaan mereka.

“Kami tidak akan kembali ke Myanmar sampai keamanan kami terjamin di sana,” kata salah satu pengungsi bernama Abul Kashem. “Mereka harus mengembalikan tanah dan properti kami kepada kami. Mereka masih menyerang Rohingya di sana. Rumah-rumah telah dibakar. Penyiksaan telah berlangsung. Kami tidak melihat ada harapan bagi keamanan di sana.”

Seorang pengungsi Rohingya lainnya, Nurul Haque, mengaku bahwa ia melarikan diri dari kamp pengungsi Balukhali setelah mendengar tentang rencana untuk memulangkan Rohingya yang tinggal di sana ke Myanmar. Ia menuturkan tidak ingin kembali ke Myanmar. “Mereka akan menyiksa kami jika kami pergi ke sana,” katanya.

Sebelumnya, pada bulan Agustus, komisioner pengungsi, bantuan, dan repatriasi Bangladesh, Abul Kalam, mengatakan bahwa Myanmar tidak dapat ‘merekonstruksi desa dan rumah’ untuk Rohingya. Namun, ia menambahkan bahwa pusat penerimaan dan kamp transit akan siap digunakan, dan Bangladesh dan Myanmar ‘telah siap’ untuk memulangkan pengungsi Rohingya.

Loading...