Bahan Baku Terbatas, Minyak Kelapa Dijual Harga Rp 23 Ribu per Liter

Industri kopra bahan minyak kelapa di Desa Sidaharja

Ciamis – Produsen minyak kelapa di Tatar Galuh Ciamis mengaku kini kesulitan untuk memperoleh baku kelapa lokal. Akibatnya, mereka pun terpaksa membeli baku lewat beberapa di luar Jawa.

“Kami terpaksa membeli kelapa dari Jambi dan sekitarnya. Kelapa lokal tidak masuk kriteria, karena kandungan minyaknya sedikit,” ujar perajin minyak kelapa dan galendo Ciamis, Endut Rohadi, (20/11).

Karena keterbatasan bahan baku tersebut, beberapa perajin di daerahnya terpaksa menghentikan usahanya. Di daerah Cigembor dan Benteng yang selama ini terkenal sebagai produsen minyak kelentik atau minyak kelapa dan galendo, perajinnya hanya kurang dari 10 orang.

“Alasan utamanya karena terkendala bahan baku. Hal lainnya adalah harga kelapa yang juga terus naik, ditambah pasokan tidak rutin. Saat ini harga kelapa mencapai Rp 4.000 per butir. Kelapa lokal banyak yang muda, sehingga tidak masuk kriteria,” paparnya.

Ia menjelaskan dalam sehari membutuhkan bahan baku 1.000 butir kelapa tua. Usai diolah menghasilkan 80 kg galendo dan 100 kg minyak kelapa yang dijual dengan harga Rp 23.000 per liter. Minyak kelapa produksi Benteng dan Cigembor tahan hingga 6 bulan-1 tahun.

Sementara itu, di Kotamobagu harga minyak kelapa curah sejak April lalu naik ke Rp 210 ribu per galon dari harga sekitar Rp 195 ribu – Rp 198 ribu. Salah satu di Serasi bernama Iwan mengaku belum berani menaikkan harga lantaran khawatir tak mau membeli.

“Takut kalau nanti pembelinya gak mau, jadi lebih baik ambil untungnya yang dikurangi,” ucap Iwan. Di sisi lain, pengumpul kopra di Mongkonai, Aswi mengatakan jika persediaan kopra juga semakin terbatas. “Sekarang persediaan kopra dari petani yang sedikit sekali, mungkin pengaruh panas kemarin yang cukup lama, makanya harganya naik lagi,” ujarnya.

Loading...