Awali Selasa, Rupiah Menguat Tipis 3 Poin

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – Mengawali Selasa (30/4) ini, mampu rebound namun dalam kisaran yang sangat tipis. Menurut paparan Bloomberg Index, Garuda dibuka menguat 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.205 per . Sebelumnya, spot berakhir melemah 9 poin atau 0,06% di posisi Rp14.208 pada tutup dagang Senin (29/4) kemarin.

“Rupiah dalam perdagangan hari Selasa ini akan ditransaksikan menguat terbatas karena disokong yang bagus,” kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip Kontan. “Selanjutnya, yang akan menjadi fokus lainnya adalah keberlangsungan dari perang dagang AS dan , yang dijadwalkan akan segera ada atau testimoni.”

Di Negeri Tirai Bambu, data menunjukkan laba industri tumbuh pada Maret 2019 setelah empat bulan mengalami kontraksi, tetapi analis mengatakan sentimen masih lemah. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan aktivitas manufaktur di China tumbuh pada kecepatan yang stabil, namun cenderung lemah di bulan April.

Menurut Ibrahim, pasar saat ini tengah menantikan kabar terbaru dari Beijing terkait pertemuan kedua negara adidaya tersebut. Karena itu, pasar enggan terlalu agresif karena belum tahun bagaimana perkembangan di sana. “Namun, bisa saja pembicaraan akan buntu karena kedua belah pihak tidak menemukan solusi,” sambung Ibrahim.

Sedikit berbeda, Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memperkirakan mata uang domestik masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Pasalnya, tren pelemahan kurs rupiah telah berlangsung sejak sepekan lalu. Selain itu, minyak mentah dunia yang sempat mengalami kenaikan, sekarang sudah mereda.

“Pasar saat ini tengah menanti perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dengan China yang rencananya bakal berlangsung Rabu (1/5). Harapannya, hasil negosiasi perang dagang yang sudah menyentuh tahap akhir tersebut bisa memberikan dampak positif bagi pasar,” papar David. “Besok (hari ini), kelihatannya (kurs rupiah) ada kemungkinan tipis untuk melemah karena sentimen perang dagang dan harga minyak.”

Loading...