Investor Wait & See, Rupiah Melemah di Awal Pekan

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (14/12) pagi - www.beritasatu.com

JAKARTA – harus terpuruk pada Senin (14/12) pagi ketika investor, baik dalam maupun luar negeri, cenderung mengambil sikap wait and see. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 09.08 WIB, mata uang Garuda 35 poin atau 0,25% ke level Rp14.115 per AS. Sebelumnya, spot sempat berakhir menguat 25 poin atau 0,18% di posisi Rp14.080 per AS pada Jumat (11/12) kemarin.

Mengutip CNBC , penguatan rupiah pada pekan kemarin didukung kabar -19 yang sudah mulai digunakan secara darurat di beberapa negara, terutama untuk mereka yang sudah berusia di atas 80 tahun dan para pekerja medis. Kenaikan mata uang domestik juga disebabkan nilai tukar yang relatif melempem, terkoreksi 0,20% terhadap mata uang utama dunia.

Meski naik, dibandingkan mata uang Asia lainnya, kinerja rupiah tidak terlalu baik. Salah satu penyebab rupiah tertinggal dibandingkan kurs lainnya adalah kasus penyakit virus di Indonesia yang masih terus menanjak. Sejak awal diserang virus tersebut, bisa dikatakan tren penambahan kasus belum pernah melambat secara signifikan.

Sementara, untuk pekan ini, pergerakan rupiah diprediksi konsolidasi, karena pelaku masih cenderung wait and see. Menurut penjelasan analis Asia Valbury Futures, Lukman Leong, pelaku masih menantikan kejelasan paket stimulus AS dan membaiknya kondisi politik di sana setelah Joe Biden lancar inaugurasi menjadi presiden Negeri Paman Sam.

Hampir senada, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakan, meski negosiasi stimulus fiskal AS masih buntu, rupiah tetap memiliki peluang untuk menguat. Sentimen positif datang dari stimulus moneter Bank Sentral Eropa sebesar 500 miliar euro. “Penyebaran vaksin juga membantu penguatan aset berisiko, termasuk rupiah,” tutur Ariston.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menambahkan, data neraca perdagangan, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, dan data penjualan ritel AS akan memengaruhi pergerakan rupiah di pekan ini. Dia sendiri memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia bulan November 2020 mencatatkan surplus sehingga dapat menyokong pergerakan rupiah.

Loading...