Awali Pekan, Rupiah Harus Pasrah Melemah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (14/6) pagi - www.beritasatu.com

JAKARTA – harus terjun ke area merah pada Senin (14/6) pagi menjelang rapat kebijakan The Fed. Menurut laporan Index pada pukul 09.20 WIB, Garuda 33,5 poin atau 0,24% ke level Rp14.222,5 per . Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 58,5 poin atau 0,41% di posisi Rp14.189 per pada Jumat (11/6) sore.

Seperti dilansir dari CNBC Indonesia, rupiah benar-benar berkuasa sepanjang pekan kemarin, tidak hanya terhadap greenback, melainkan juga seluruh mata uang Asia dan Eropa. Secara point-to-point, rupiah naik 0,71% melawan dolar AS, menuju level di bawah Rp14.200 sekaligus sah menjadi mata uang terbaik di Benua Kuning.

“Pekan kemarin, Bank Indonesia merilis dua data yang membuktikan bahwa perekonomian Indonesia mulai bangkit dari hantaman virus corona, yakni Indeks Keyakinan Konsumen yang naik ke 104,4 dan penjualan ritel yang naik 17,3% ke 220,4,” tulis CNBC Indonesia. “Prospek ekonomi yang cerah ini membuat tetap berkenan masuk ke pasar keuangan Indonesia, sehingga menjadi modal bagi rupiah untuk menguat.”

Hampir senada, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa penguatan rupiah ditopang data inflasi yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Apalagi, Bank Indonesia baru saja melaporkan penjualan ritel yang akhirnya mengalami pertumbuhan untuk pertama kalinya setelah terkontraksi selama 16 bulan beruntun. “Untuk perdagangan Senin, rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup menguat di rentang Rp14.160 hingga Rp14.210 per dolar AS,” katanya.

Sementara itu, Analis Kapital Investama, Alwi Assegaf, menyatakan bahwa sentimen yang dapat mendorong rupiah bisa datang dari rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Kebijakan yang disinggung dalam rapat tersebut akan memengaruhi, misalnya jika The Fed menyinggung waktu mengenai tapering yang bisa menekan rupiah.

Head of Economics and Research Pefindo, Fikri C. Permana, menambahkan bahwa akan ada rilis data core retail sales AS dan data produksi industri dari China. Selain dua hal tersebut, ada rilis data persediaan minyak AS yang akan turut menjadi salah satu indikator inflasi global. “Rupiah masih akan berada di level saat ini pada Senin, dengan pergerakan yang tipis,” tutur Fikri, dilansir dari Kontan.

Loading...