Awali Pekan, Rupiah Terpantau Melemah Tipis

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (22/1) pagi - www.validnews.id

JAKARTA – Rupiah masih belum bisa bangkit ke teritori hijau pada Senin (22/2) pagi. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 09.07 WIB, mata uang Garuda 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.075 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 40 poin atau 0,29% di posisi Rp14.065 per dolar AS pada Jumat (19/2) kemarin.

“Pergerakan rupiah dipengaruhi rilis yang melaporkan neraca pembayaran Indonesia (NPI) kuartal IV 2020 mengalami defisit sebesar 0,2 miliar dolar AS,” ujar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir dari . “Namun bank sentral menegaskan bahwa NPI tetap baik sehingga mampu menopang ketahanan eksternal, sehingga tetap terjaga di tengah tekanan pandemi Covid-19.”

Sementara itu, dari luar negeri, terus mencerna kenaikan tidak terduga dalam jumlah klaim pengangguran AS. Sebanyak 861.000 klaim telah diajukan selama minggu sebelumnya, dibandingkan dengan 765.000 klaim dalam perkiraan yang diperkirakan sebelumnya. “Hal ini menandakan penurunan selama dua bulan beruntun di tengah melambatnya penyebaran baru-baru ini,” sambung Ibrahim.

Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail Zaini, mengatakan bahwa rupiah sempat menguat di awal pekan karena data neraca perdagangan surplus 1,96 miliar di periode Januari 2021. Namun, di pertengahan minggu kemarin, penguatan mata uang Garuda terkikis lantaran terpengaruh kenaikan yield US Treasury yang menyentuh rekor tertinggi sejak Maret 2020 ke level 1,31%.

“Untuk pekan ini, yield US Treasury berpotensi melanjutkan kenaikan, yang bisa membuat rupiah semakin terdepresiasi,” tutur Mikail, dikutip dari Kontan. “Sementara, dari dalam negeri, belum ada data yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Mata uang Garuda kemungkinan bergerak melemah di kisaran Rp14.100 hingga Rp14.150 per dolar AS.”

Nyaris senada, analisis CNBC Indonesia menuturkan bahwa ketika yield obligasi pemerintah AS terus naik, lambat laun akan membuat pelaku pasar melirik. Hal tersebut dapat membuat arus modal meninggalkan instrumen berisiko untuk masuk ke pasar obligasi pemerintah AS. Kalau sampai terwujud, tentunya akan menjadi kabar yang kurang mengenakkan bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Loading...