Awali Pekan, Pelemahan Rupiah Masih Berlanjut

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (21/12) pagi - sindonews.com

JAKARTA – belum mampu lepas dari jeratan zona merah pada perdagangan Senin (21/12) pagi. Menurut laporan Index pukul 09.12 WIB, mata uang Garuda melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.125 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah terdepresiasi tipis 2,5 poin atau 0,02% di posisi Rp14.110 per dolar AS pada akhir transaksi Jumat (18/12) kemarin.

Menurut penuturan ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, pelemahan yang dialami rupiah pada akhir pekan kemarin salah satunya disebabkan penambahan kasus virus corona di yang relatif masih tinggi. Hal tersebut dinilai berpengaruh pada sentimen proses pemulihan ekonomi. “Meskipun telah mengeluarkan pembatasan hari libur, dampaknya belum bisa meredam kekhawatiran investor di keuangan terhadap proses pemulihan ekonomi yang berjalan lambat,” katanya, dilansir dari .

Sementara itu, faktor eksternal yang melemahkan nilai rupiah adalah keputusan AS yang mengeluarkan daftar hitam atau blacklist untuk sejumlah perusahaan asal China. Langkah ini menyebabkan pasar keuangan melakukan konsolidasi, termasuk di Indonesia. Yusuf pun memprediksi rupiah masih berpotensi melemah pada awal pekan ini dan bergerak di kisaran Rp14.150 hingga Rp14.200 per dolar AS.

Hal serupa disampaikan tim analis CNBC Indonesia yang memperkirakan rupiah bergerak turun pada transaksi awal pekan ini. Pasalnya, tanda-tanda pelemahan mata uang domestik sudah tampak di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot, dan karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Berbanding terbalik, analis Capital Futures, Wahyu Laksono, justru menilai rupiah punya potensi menguat pada perdagangan menjelang perayaan Natal 2020. Menurut Wahyu, potensi tersebut lantaran hingga saat ini nilai tukar dolar AS terus melemah terhadap berbagai aset, baik komoditas maupun mata uang lainnya.

Secara domestik, kondisi ekonomi Indonesia juga terbilang stabil dan bahkan lebih baik dibandingkan dengan Eropa ataupun AS. Ia menjelaskan, isu pandemi virus corona yang terjadi tidak seburuk yang dialami oleh kedua kawasan tersebut. “Kemungkinan penguatan masih terbuka, kisaran pergerakannya di level Rp14.000 hingga Rp14.200 per dolar AS,” ujar Wahyu.

Loading...