Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melemah Jelang RDG BI

Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Senin (22/10) - tirto.id

harus kembali tersungkur ke teritori merah pada pembukaan perdagangan Senin (22/10) ini jelang Rapat Dewan Gubernur . Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda mengawali pekan dengan 13 poin atau 0,09% ke level Rp15.200 per . Sebelumnya, spot ditutup menguat 8 poin atau 0,05% di posisi Rp15.187 per dolar pada akhir pekan (19/10) kemarin.

“Pergerakan rupiah pada hari Senin ini masih dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya yang menunggu data Produk Domestik Bruto (PDB) AS, yang dapat mengkhawatirkan karena bisa memosisikan dolar AS di atas angin,” ujar analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong, dilansir Kontan. “Terlebih, pekan lalu adanya pengaruh besar respon terhadap notulen FOMC minutes, yang berpotensi melanjutkan kebijakan kenaikan acuan hingga tahun depan.”

Sementara itu, kepala ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, mengatakan bahwa selain hasil notulen FOMC meeting, masih ada perhatian pasar seputar ketegangan diplomatik antara AS dan Arab Saudi terkait dengan kenaikan minyak. Di samping itu, juga ada kekhawatiran yang datang dari Italia, yang tetap mempertahankan defisit anggaran di atas aturan Uni Eropa.

Hampir senada, senior analyst CSA Research Institute, Reza Priyambada, bilang bahwa rupiah masih akan cenderung bergerak sideways, karena pergerakan imbal hasil obligasi AS dan dolar AS masih akan dicermati pelaku pasar. Masih adanya kekhawatiran akan kebijakan kenaikan suku bunga juga akan memengaruhi sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

“Diharapkan, sentimen dari dalam negeri, terutama dari rilis pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, dapat menahan pelemahan rupiah lebih lanjut,” papar Reza. “Suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini sebesar 5,75% sudah pas. Dan, saya berharap tetap, sambil diperbaiki makrofundamental domestik.”

Bank Indonesia sendiri dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 22-23 Oktober 2018, yang salah satu agendanya adalah menentukan tingkat suku bunga. Jika karena The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember nanti, maka kemungkinan rapat yang dijadwalkan Bank Indonesia juga akan menaikkan suku bunga.

Loading...