Awal Bulan, Rupiah Dibuka Stagnan di Level Rp 15.203/USD

Rupiah - www.validnews.idRupiah - www.validnews.id

Jakarta dibuka stagnan di level Rp 15.203 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (1/11). Kemarin, Rabu (31/10), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terapresiasi 21 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp 15.203 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB di tengah reli pasar global dan data ekonomi Amerika Serikat yang positif. Adanya kenaikan pasar global pada Rabu (31/10) menyebabkan tingginya terhadap dolar AS, dipicu oleh peningkatan laba dari General Motors dan Facebook.

Seperti dilansir Xinhua, laporan ketenagakerjaan ADP yang dirilis pada Rabu (31/10) mengindikasikan bahwa kekuatan ekonomi Amerika Serikat ditunjang oleh pasar tenaga kerja yang kuat. Laporan yang dianggap sebagai pratinjau laporan pekerjaan yang lebih rinci oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS ini menunjukkan bahwa pengusaha sektor swasta telah menambahkan 227.000 pekerjaan pada Oktober 2018. Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan lapangan kerja di sektor bisnis yang lebih besar.

Menurut para analis data yang positif tersebut akan memicu penguatan dolar AS dan mendorong untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. The Fed atau bank sentral AS diprediksi bakal menaikkan suku bunganya lagi pada bulan Desember 2018 mendatang, menyusul kenaikan suku bunga pada September untuk ketiga kalinya sepanjang 2018. Hal ini dinilai mengakibatkan USD lebih bernilai di pasar global.

Di sisi lain, rupiah kemarin mampu rebound lantaran (BI) dinilai dapat mengelola pasar valas (valuta asing) dengan baik, sehingga akan dolar AS pun bisa terpenuhi. Menurut Kepala Ekonom Bank Central (BCA) David Sumual, laporan kinerja emiten kuartal III 2018 yang positif juga mendukung rupiah untuk menguat. Akan tetapi terdapat kekhawatiran lain dari zona Eropa. “Data pertumbuhan ekonomi Eropa tidak sesuai ekspektasi. Prediksi awal sebesar 1,8%, namun di kuartal III-2018 hanya 1,7%,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Loading...