Aset Safe Haven Dihindari, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - www.businesstimes.com.sgRupiah - www.businesstimes.com.sg

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang sempit, menyudahi perdagangan Kamis (9/7) sore di area , ketika pergerakan indeks AS cenderung menurun karena aset safe haven yang mengendur. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda menguat 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.395 per AS.

Sementara itu, yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.446 per dolar AS, menguat 14 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.460 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang berada di zona hijau, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,15% menghampiri ringgit Malaysia.

“Penguatan rupiah yang terjadi kemarin tidak lepas dari sentimen positif kenaikan cadangan devisa dalam negeri. Pada bulan Juni, cadangan devisa mencapai angka 131,7 miliar dolar AS, naik 1,2 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama melemah.”

Dari pasar , seperti diberitakan Reuters, dolar AS masih mengalami kerugian terhadap sebagian besar mata uang pada hari Kamis, karena reli aset berisiko, seperti ekuitas dan komoditas, membuat permintaan untuk aset safe haven sedikit mengendur. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,144 poin atau 0,15% ke level 96,284 pada pukul 11.51 WIB, sebelum naik tipis pada sore hari.

Berbanding terbalik, yuan China naik ke level tertinggi empat bulan terhadap , karena investor meningkatkan posisi di saham Negeri Panda seiring meningkatnya optimisme tentang terbesar kedua di dunia itu. Namun, kekhawatiran yang masih melekat tentang penyebaran coronavirus dapat membuat beberapa gerak mata uang berada dalam kisaran yang ketat.

“Meningkatnya saham dan penurunan dalam Treasury yields sedikit negatif untuk dolar AS, tetapi pasar tidak bisa bergerak terlalu jauh karena kita masih harus khawatir tentang virus,” kata kepala penelitian pasar global di MUFG Bank, Minori Uchida. “Banyak data ekonomi utama AS telah positif, dan orang-orang mencari isyarat dari stok, imbal hasil, dan biaya lindung nilai.”

Loading...