Aset Safe Haven Diburu, Rupiah KO di Senin Sore

Rupiah melemah Senin (25/3) soreRupiah melemah Senin (25/3) sore - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – gagal merangsek ke zona hijau pada Senin (25/3) sore, ketika safe haven seperti yen Jepang lebih diminati oleh , imbas kekhawatiran mengenai perlambatan . Menurut paparan Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 22 poin atau 0,16% ke level Rp14.185 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.223 per dolar AS, terdepresiasi 66 poin atau 0,47% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.157 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,44% menghampiri won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya cenderung bergerak lebih rendah pada awal pekan, menyusul kenaikan yang dialami yen Jepang akibat kekhawatiran investor mengenai perlambatan ekonomi global yang menopang daya tarik aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,039 poin atau 0,04% ke level 96,612 pada pukul 12.45 WIB.

“Data ekonomi yang buruk seharusnya tidak menjadi kejutan nyata bagi pasar. Tetapi, harapan untuk perbaikan dalam hubungan perdagangan China-AS telah membayangi laju ekonomi, dan sekarang kita melihat beberapa ekspektasi berlebihan sedang menurun,” ujar Presiden FPG Securities di Tokyo, Koji Fukaya, dilansir Reuters. “Secara luas, yen Jepang bergerak menguat.”

Sebelumnya, dolar AS sudah terkena dampak besar terhadap yen Jepang pada hari Jumat (22/3), ketika spread antara imbal hasil obligasi Treasury bertenor 3 bulan dan 10 tahun berbalik untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah rilis data PMI sektor manufaktur AS. Secara historis, kurva yield yang terbalik menandakan adanya resesi yang akan datang.

Mengenai laporan resmi yang menyimpulkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, tidak berkolusi dengan Rusia selama pemilihan presiden pada 2016, respon pasar secara umum cukup terbatas. Penasihat khusus, Robert Mueller, tidak menemukan bukti kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia, dan tidak memberikan bukti yang cukup untuk menuntut Trump karena menghalangi proses hukum.

Loading...