Aset Risiko Masih Memikat, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - www.jayabaya.ac.idRupiah - www.jayabaya.ac.id

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada perdagangan Kamis (26/11) sore ketika daya tarik aset berisiko masih cemerlang di kalangan investor, mengirimkan greenback ke area negatif. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 44 poin atau 0,31% ke level Rp14.100 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.130 per dolar AS, menguat 0,27% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.169 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia juga mengungguli greenback, termasuk won Korea Selatan, yuan China, dan dolar Singapura.

Menurut analisis CNBC Indonesia, sebenarnya penguatan rupiah sempat menipis, disebabkan arus asing di pasar keuangan dalam negeri yang agak seret. Investor asing membukukan jual bersih Rp15,73 miliar, sedangkan di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun naik 1 basis point, yang menandakan Surat Berharga Negara turun karena tekanan jual.

“Harap maklum, IHSG dan harga obligasi pemerintah memang sudah menguat gila-gilaan. Dalam sebulan terakhir, IHSG sudah melonjak 10,4%, sementara yield SBN 10 tahun anjlok 37,4 bps,” tulis Tim Riset CNBC Indonesia. “Karena itu, sangat wajar jika investor tergiur untuk mencairkan cuan. Tekanan jual di pasar saham dan obligasi menyebabkan rupiah ikutan terpangkas.”

Walau begitu, tidak membuat mata uang Garuda terpuruk. Pasalnya, dolar AS berada dalam posisi defensif pada hari Kamis karena data ekonomi AS yang suram dan optimisme tentang mendorong investor untuk mencari aset berisiko yang terkait dengan komoditas global dan pasar negara berkembang. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,073 poin atau 0,08% ke level 91,921 pada pukul 14.55 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, investor telah bergegas ke mata uang berisiko dan aset pasar berkembang dalam beberapa pekan terakhir menyusul data positif tentang kemanjuran vaksin COVID-19 dan tanda-tanda stabilitas dalam politik AS. Sentimen negatif untuk greenback bertambah setelah data pada hari Rabu (25/11) menunjukkan klaim pengangguran mingguan AS naik lebih dari yang diharapkan sedangkan pendapatan pribadi turun.

Loading...