Aset Risiko Kembali Diminati, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - harianjogja.bisnis.comRupiah - harianjogja.bisnis.com

mampu menyelesaikan akhir pekan (13/4) ini di teritori hijau, setelah ketegangan di Timur Tengah mereda, yang langsung mengangkat pamor aset risiko. Menurut penuturan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda mengakhiri dengan penguatan sebesar 23 poin atau 0,17% ke level Rp13.755 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah harus ditutup melemah 19 poin atau 0,14% di posisi Rp13.778 per dolar AS pada Kamis (12/4) kemarin. Kemudian, pagi tadi, mata uang NKRI rebound dengan dibuka 32 poin atau 0,23% ke level Rp13.746 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis bergerak nyaman di zona positif, dari awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, siang tadi, Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.753 per dolar AS, naik 10 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.763 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang perkasa versus , dengan lonjakan tertinggi sebesar 0,15% menghampiri baht Thailand dan rupiah.

Dari global, indeks dolar AS mampu bergerak mendekati tertinggi level tertinggi dalam 1,5 bulan terhadap yen Jepang pada hari Jumat, karena peningkatan minat investor terhadap aset risiko, yang mendorong saham dan imbal hasil AS secara signifikan. Mata uang Paman Sam terpantau stabil di posisi 107,385 yen, setelah semalam menguat lebih dari 0,5%.

Seperti dilaporkan Reuters, bursa saham Wall Street kembali menguat pada hari Kamis waktu setempat, usai ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump, bahwa serangan militer terhadap Suriah mungkin tidak akan terjadi. Sebelumnya, greenback telah tergelincir versus yen, dipicu tensi perang dagang AS-China dan kemungkinan peluncuran rudal AS ke Suriah.

“Sepertinya, beberapa gerakan menurunkan aset risiko yang mengangkat yen Jepang sedang dihindari oleh investor,” ujar ahli strategi senior di Barclays di Tokyo, Shin Kadota, dalam laporan yang dikutip oleh Reuters. Meski risiko yang dihadapi pasar mungkin telah melunak, namun mereka belum sepenuhnya pergi.”

Loading...