Aset Risiko Ditinggalkan, Rupiah Ditutup Berbalik Melemah

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

JAKARTA – Rupiah harus terjungkal ke teritori merah pada perdagangan Kamis (25/6) sore, ketika indeks dolar AS berada di atas angin menyusul kekhawatiran mengenai peningkatan kasus COVID-19 yang membuat mereka meninggalkan aset berisiko. Menurut Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda melemah 45 poin atau 0,32% ke level Rp14.175 per dolar AS.

Sementara itu, yang diterbitkan Bank Indonesia pagi tadi menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.231 per dolar AS, terdepresiasi 71 poin atau 0,5% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.160 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, rupiah juga terpantau melandai 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.150 per dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS berada di atas angin pada hari Kamis, karena peningkatan kasus di Amerika Serikat dan ketegangan perdagangan merusak harapan untuk pemulihan global yang cepat dan mendorong investor menghindari aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,154 poin atau 0,16% ke level 97,302 pada pukul 14.54 WIB.

Seperti disalin dari Reuters, kasus virus corona secara harian di AS baru-baru ini melonjak menjadi hampir 36.000 dalam penghitungan terakhir, mendekati rekor 36.426 yang tercatat pada akhir April kemarin. Persentase hasil positif dalam tes juga meningkat. Gubernur New York, New Jersey, dan Connecticut mewajibkan para pelancong dari sembilan negara bagian AS untuk karantina selama 14 hari saat kasus menunjukkan tanda-tanda melonjak di bagian selatan dan barat negara itu.

Di California, yang mengalami peningkatan kasus baru yang tajam dalam beberapa hari terakhir, Disney Parks mengatakan akan menunda pembukaan kembali taman hiburan dan resor. Sementara beberapa investor mengharapkan dampak ekonomi dari infeksi gelombang kedua bisa lebih kecil daripada yang pertama, yang lain khawatir bahwa pembuat kebijakan mungkin gagal merespons risiko kerusakan ekonomi lebih lanjut.

“Pasar semakin khawatir bahwa ini bukan hanya lonjakan sementara,” ujar manajer Cabang State Street Bank and Trust di Cabang Tokyo, Bart Wakabayashi. “Segalanya bisa benar-benar menjadi lebih buruk, dan dengan AS menjadi ekonomi terbesar di dunia, setiap penutupan ekonomi lebih lanjut akan memiliki dampak serius.”

Loading...