Aset Risiko Dihindari, Rupiah Negatif di Kamis Sore

Rupiah - baca.co.idRupiah - baca.co.id

JAKARTA – tidak memiliki tenaga untuk bergerak naik ke zona hijau pada perdagangan Kamis (13/6) sore seiring dengan menurunnya selera terhadap aset berisiko di tengah kekhawatiran . Menurut catatan Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda melemah 39 poin atau 0,27% ke level Rp14.280 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.270 per dolar AS, terdepresiasi 36 poin atau 0,25% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.234 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga takluk versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,25% dialami dolar Taiwan.

Dari global, aset safe haven seperti yen Jepang bergerak lebih tinggi pada hari Kamis, sedangkan dolar AS relatif melemah, seiring dengan menurunnya selera investor terhadap aset berisiko dipicu kekhawatiran mengenai pertumbuhan global dan tensi perdagangan. Mata uang Paman Sam terpantau turun 0,061 poin atau 0,06% ke level 96,939 pada pukul 12.44 WIB.

Diberitakan Reuters, bursa di Asia tergelincir karena sentimen risiko memburuk di tengah ketidakpastian terhadap hubungan AS dan China yang diharapkan membuat kesepakatan di sela-sela pertemuan KTT G20 pada tanggal 28 Juni di Jepang. Suasana di pasar di kawasan ini juga adem karena Hong Kong jatuh untuk hari kedua setelah protes jalanan besar-besaran.

“Penghindaran aset risiko dan jatuhnya pasar saham, seperti biasa, mendukung yen Jepang,” tutur manajer cabang Tokyo untuk State Street Bank dan Trust, Bart Wakabayashi. “Kinerja buruk dolar Australia juga merupakan pendorong bagi yen. Data pekerjaan Australia hari ini memang tidak terlalu buruk, tetapi tampaknya beberapa pedagang melihat data sebagai peluang lain untuk menjual dolar Australia.”

Tingkat pengangguran di Australia dilaporkan tetap macet di 5,2% pada bulan Mei kemarin, karena lonjakan perekrutan paruh waktu dipenuhi oleh kumpulan tenaga kerja yang terus berkembang, suatu tanda pasti kapasitas cadangan yang menganjurkan pemotongan suku bunga lagi pada bulan depan. Dolar Australia yang sudah terkulai pada hari sebelumnya karena penurunan minyak mentah, memperpanjang pelemahan ke level terendah dua minggu di 0,6905 terhadap greenback.

Meskipun ekspektasi memuncak bahwa Federal Reserve akan melonggarkan kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang, dolar AS bernasib lebih baik terhadap mata uang utama lainnya, seperti euro, pound sterling, dan mata uang komoditas. Euro terpukul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan sanksi atas proyek pipa gas alam Nord Stream 2 Rusia.

Loading...