Aset Risiko Dihindari, Rupiah Melemah di Akhir Pekan

Rupiah - www.savemoneychanger.comRupiah - www.savemoneychanger.com

JAKARTA – gagal memanfaatkan pelemahan yang dialami AS untuk bergerak ke zona hijau pada Jumat (26/10) sore, karena selera investor terhadap aset risiko relatif menurun. Menurut yang diturunkan Bloomberg Index pada pukul 15.47 WIB, mata uang Garuda melemah 29 poin atau 0,19% ke level Rp15.217 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan berada di posisi Rp15.207 per dolar AS, menguat tipis 3 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.210 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,45% menghampiri baht Thailand.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya bergerak negatif pada hari Jumat, karena selera investor untuk aset berisiko masih menurun, sedangkan euro berada di dekat posisi terendah dua bulan setelah European Central Bank (ECB) gagal meyakinkan pasar bahwa akan naik. Mata uang Paman Sam terpantau melandai 0,027 poin atau 0,03% ke level 96,652 pada pukul 11.01 WIB.

Seperti dilansir Reuters, analis melihat masih banyak risiko yang bertahan di pasar, termasuk ketegangan perdagangan, anggaran Italia, ketidakpastian geopolitik, dan kekhawatiran tentang laba perusahaan AS. Menurut ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong, sentimen aset risiko masih cukup rapuh. “Saya memperkirakan yen akan kembali ke level tertinggi,” katanya.

Dari Benua Biru, euro diperdagangkan sedikit lebih rendah ke level 1,1365 per dolar AS pada akhir pekan, menyusul kegagalan Presiden ECB, Mario Draghi, untuk meyakinkan pasar bahwa mereka dapat mengejar pengetatan moneter setelah musim panas mendatang. ECB sempat kembali menegaskan bahwa pembelian aset 2,6 triliun euro akan berakhir tahun ini dan suku bunga dapat naik sebelum musim panas tahun depan.

“Risikonya, oleh karena itu, adalah panduan bahwa suku bunga akan tetap pada level saat ini, setidaknya sampai kenaikan pada musim panas 2019 mendatang,” tutur ekonom internasional di ANZ, Brian Martin, dalam sebuah catatan. “Itu juga bisa membuat euro rentan terhadap penurunan lebih lanjut dalam waktu dekat.”

Loading...