Aset Risiko Diguncang, Rupiah Tetap Berakhir Menguat

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah akhirnya menyudahi Rabu (8/7) sore di zona hijau ketika sentimen aset berisiko diguncang lonjakan kasus . Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda menguat 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.410 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.460 per dolar AS, melemah 4 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.456 per dolar AS. Di saat bersamaan, mata uang Asia bergerak terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,18% dialami dolar Taiwan dan pelemahan terdalam sebesar 0,19% menghampiri baht Thailand.

“Volume perdagangan valas cenderung menurun selama periode musim panas. Namun, itu tidak berarti bahwa volatilitas berkurang,” tutur Kepala Riset Asia di Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd., Khoon Goh, dilansir Bisnis. “Ada lebih banyak ruang lingkup bagi mata uang untuk melakukan lebih banyak penyesuaian terhadap guncangan ekonomi, dengan bank sentral yang tidak menaikkan suku bunga untuk sementara waktu.”

Dari pasar , indeks dolar AS mempertahankan kenaikan pada hari Rabu karena kebangkitan coronavirus di Amerika Serikat dan kembalinya kebijakan lockdown di beberapa mendorong permintaan aset safe haven. Mata uang Paman Sam sempat menguat 0,077 poin atau 0,08% ke level 96,958 pada pukul 11.28 WIB, sebelum berbalik melemah tipis pada sore hari.

Seperti diberitakan Reuters, sentimen aset berisiko juga diganggu pejabat Federal Reserve yang khawatir bahwa meningkatnya kasus coronavirus dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi. Mata uang Asia cenderung bergerak pada kisaran yang sempit karena kebangkitan kembali kasus coronavirus mengancam kembalinya kebijakan lockdown, membuat investor khawatir tentang meningkatnya ekonomi akibat pandemi.

“Suasana berubah hari demi hari, tetapi dolar AS tampaknya akan didukung untuk saat ini karena investor menjadi lebih berhati-hati tentang virus,” kata ahli valuta asing di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Komentar The Fed tentang ekonomi terdengar suram. Ada alasan untuk khawatir karena sulit untuk mengetahui kapan virus tersebut dapat dikendalikan.”

Loading...