Investor Borong Aset Risiko, Rupiah Ditutup Menguat 1,02%

Rupiah menguat hingga perdagangan Senin (9/11) sore - www.rctiplus.com

JAKARTA – melaju mulus di zona hijau hingga perdagangan Senin (9/11) sore ketika berbondong-bondong memburu berisiko di tengah euforia kemenangan dalam pemilihan presiden AS. Berdasarkan laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 145 poin atau 1,02% ke level Rp14.065 per AS.

Sementara itu, menurut yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.172 per , menguat tajam 1,04% dari sebelumnya di level Rp14.439 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas uang Asia mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,49% dialami rupiah dan won Korea Selatan.

Menurut analisis CNBC Indonesia, kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden AS membuat pelaku bergairah. Pasalnya, kehadiran wakil dari Partai Demokrat di Gedung Putih tersebut diperkirakan membuat suasana di Washington lebih adem, tidak membara seperti empat tahun masa pemerintahan . Inilah yang akhirnya menjadikan aset berisiko di negara berkembang menjadi buruan investor.

Berbanding terbalik, dolar AS harus mencapai level terendah 10 minggu karena investor menyambut terpilihnya Joe Biden sebagai presiden AS dengan membeli mata uang berisiko, dengan ekspektasi bahwa suasana Gedung Putih yang lebih tenang dapat meningkatkan perdagangan dunia dan bahwa kebijakan moneter akan tetap mudah. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,0710 atau 0,08% ke level 92,158 pada pukul 11.14 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, Biden pada Sabtu (7/11) kemarin melewati ambang 270 suara elektoral yang diperlukan untuk terpilih, dengan memenangkan suara di negara bagian Pennsylvania. Partai Republik memang tampaknya masih memiliki kendali atas Senat, meskipun susunan akhir mungkin belum jelas sampai pemilihan putaran kedua di Georgia pada bulan Januari.

Walau demikian, pergerakan pasar sebagian besar masih tertahan karena bereaksi terhadap kemenangan Biden dan karena Donald Trump, petahana pertama yang kalah dalam pemilihan ulang dalam 28 tahun terakhir, tidak menunjukkan tanda-tanda menerima kekalahan. Trump mencoba merusak hasil pemilu dengan tuduhan penipuan yang tidak terbukti. “Kami memperingatkan bahwa volatilitas masih belum berhenti, meskipun hasil pemilu sudah pasti,” kata analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Kim Mundy.

Loading...