Aset Aman Diburu, Rupiah Kembali Tumbang di Akhir Senin

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (30/3) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – Setelah sempat naik gila-gilaan dalam beberapa sesi terakhir, kembali harus tumbang pada perdagangan Senin (30/3) sore ketika investor mengalihkan minat ke safe haven di tengah pandemi virus corona yang berkepanjangan. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda terjun bebas 168 poin atau 1,05% ke level Rp16.338 per .

Sementara, hari ini menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp16.336 per dolar , terdepresiasi 106 poin atau 0,65% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.230 per dolar . Mayoritas mata uang juga terpantau tumbang, kecuali yen Jepang yang menguat 0,47% dan dolar Singapura yang naik tipis 0,06%.

Tren pelemahan rupiah banyak dipengaruhi oleh sentimen global di antaranya inisiatif Jepang dalam menanggulangi wabah Covid-19. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, baru-baru ini menyatakan pihaknya tengah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga pertumbuhan di tengah krisis, sedangkan India memangkas dan memberikan stimulus sebesar 1,7 triliun rupee.

Penguatan yang dialami dolar AS serta aset safe haven seperti yen Jepang juga turut andil membuat rupiah terpuruk. Pada hari Senin, greenback mampu mengakhiri penurunan selama seminggu ketika ketidakpastian mengenai dampak virus corona masih berkepanjangan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,384 poin atau 0,39% menuju level 98,749 pada pukul 11.51 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, akhir pekan kemarin membawa lebih banyak kabar buruk mengenai virus corona. Total kematian hampir 34 ribu tercatat secara global, dan AS muncul sebagai pusat kasus terbaru, dengan lebih dari 137 orang terinfeksi dan 2.400 pasien harus kehilangan nyawa. Bahkan, menurut prediksi National Institute of Allergy and Infectious Diseases, pandemi ini dapat membunuh 10 ribu hingga 20 ribu warga di AS jika mitigasi tidak berhasil.

“Penghindaran aset berisiko lebih penting ke arah dolar AS daripada perbedaan suku bunga tradisional,” kata analis dari Standard Chartered. “Agar dolar AS menyerahkan sebagian dari keuntungannya baru-baru ini, investor perlu mengubah preferensi mereka kembali ke sekeranjang yang lebih luas dari aset safe haven.”

Loading...