ASEAN+3 Perluas Swap Multilateral Cegah Krisis Nilai Mata Uang

TOKYO – -negara di Asia mencari cara untuk mencegah krisis mata uang dengan memperluas swap arrangement multilateral. Jepang, China, Korea Selatan, dan (yang dikenal sebagai +3) akan membahas perluasan Chiang Mai Initiative, sebuah likuiditas darurat yang pertama kali dibentuk pada tahun 1997 ketika terjadi krisis moneter di Asia.

Chiang Mai Initiative sebelumnya dirancang untuk membantu mempertahankan nilai tukar mata uang jika kurs terus merosot terhadap AS. Pertemuan tahunan Asian Development Bank dan pertemuan Menteri Keuangan ASEAN+3 yang diselenggarakan di Yokohama pada bulan Mei mendatang kemungkinan akan memberikan kesempatan untuk melakukan diskusi tersebut.

Fasilitas itu sendiri memiliki dana keseluruhan sebesar 240 miliar , namun hanya 30 persen atau sekitar 72 miliar saja yang dapat dilepaskan melalui kesepakatan ASEAN+3. Sementara, 70 persen sisanya hanya dapat digunakan untuk bantuan keuangan IMF. IMF memang membutuhkan waktu untuk membuat keputusan bantuan, sehingga ASEAN telah menyerukan untuk meningkatkan respons, meski awalnya ditentang oleh Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

Dorongan untuk kompromi ini berasal dari kekhawatiran atas segala kemungkinan yang terjadi pada pergolakan ekonomi global. Negara-negara ASEAN mewaspadai dampak potensial yang mungkin ditimbulkan dari kenaikan suku bunga AS. Sebelumnya, kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2016 lalu telah mengirim ringgit ke level terendah terhadap dolar AS sejak 1998, sedangkan baht Thailand melemah sekitar 5 persen sejak musim gugur.

Jika Federal Reserve memutuskan menaikkan suku bunga mereka sebanyak tiga kali pada tahun ini, maka keuangan Asia dipastikan akan terpengaruh. Hasil dari pemilihan umum nasional di Perancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya juga dapat mengirimkan gelombang kejut melalui global.

Jepang dan China sebelumnya secara terpisah telah bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara melalui perjanjian bilateral swap mata uang. Tokyo sedang melakukan pembicaraan dengan Malaysia dan Thailand, sedangkan Beijing telah memperpanjang perjanjian dengan dua negara Asia Tenggara, selain memperluas pertukaran dengan pada bulan November 2016.

Loading...