Terkait China, AS Mata-matai Uni Eropa

Bendera Uni Eropa - www.lowyinstitute.orgBendera Uni Eropa - www.lowyinstitute.org

WASHINGTON – US National Security Agency (NSA) ternyata memata-matai para tinggi selama bertahun-tahun, menunjukkan ketidakpercayaan terhadap sekutu mereka sendiri. tersebut semakin menunjukkan bahwa Negeri Paman Sam memang bersedia melakukan apa saja untuk menghentikan -negara Benua Biru agar tidak semakin dekat dengan dan .

Dilansir dari TRT World, pengungkapan itu datang dalam penyelidikan media pan-Eropa yang dipimpin oleh penyiar publik Denmark, Danmarks Radio, yang mengatakan bahwa NSA menggunakan kabel internet Denmark untuk menyadap panggilan dan pesan teks dari pejabat tinggi dari Jerman, Swedia, Norwegia, dan Prancis antara 2012 hingga 2014. Apa yang lebih mengkhawatirkan politisi Uni Eropa adalah bahwa NSA dibantu dinas intelijen militer Denmark, FE, dalam skema penyadapan canggih yang menargetkan antara lain Kanselir Jerman, Angela Merkel.

“Pengumpulan intelijen terhadap sekutu menunjukkan kurangnya kepercayaan pada apa yang dibagikan dalam pertukaran diplomatik normal,” kata Ewan Lawson, rekanan di Royal United Services Institute (RUSI) yang berbasis di London. “Negara-negara kunci Eropa telah mengambil posisi berbeda dengan AS dalam sejumlah masalah, terutama dalam hubungan dengan Rusia dan China.”

Laporan jaringan spionase AS yang canggih pertama kali muncul pada tahun 2013 ketika NSA, Edward Snowden, membocorkan dokumen yang menunjukkan bagaimana Washington memata-matai warga AS dan sekutunya di negara lain. Menurut Lawson, pengumpulan intelijen AS bukan hal baru dan tidak mungkin memiliki signifikan pada hubungan AS dengan Prancis dan Jerman. Meski begitu, para politisi Eropa bereaksi keras. Clement Beaune, Sekretaris Negara Prancis untuk urusan Eropa, menyebut berita mata-mata itu sebagai ‘sangat serius’.

Sami Hamdi, direktur pelaksana International Interest, konsultan risiko dan intelijen global, mengatakan bahwa Washington telah menyatakan keprihatinan bahwa Eropa mungkin mengambil pendekatan independen terhadap China dan Rusia. Beberapa negara Eropa, seperti Italia, memang menempuh jalannya sendiri dan menandatangani perjanjian untuk berpartisipasi dalam Inisiatif Belt and Road, proyek investasi infrastruktur yang menurut AS digunakan Beijing untuk memperluas pengaruh globalnya.

“Sementara pertanyaan tentang AS melanjutkan praktik mata-matanya tetap terbuka untuk diperdebatkan, ketidakpercayaan antara sekutu masih ada,” tutur Hamdi. “Washington sangat prihatin dengan negara-negara Eropa yang mempertimbangkan hubungan yang lebih baik dengan Rusia, dan Uni Eropa menegosiasikan kesepakatan dengan China pada saat yang sama ketika Biden berusaha mengisolasi Beijing.”

Presiden AS sebelumnya, Donald Trump, sebagian besar berhasil meyakinkan mitra Eropa untuk tidak menggunakan peralatan 5G China. Namun, beberapa negara, seperti Jerman, telah menolak tekanan AS pada proyek-proyek lain yang melibatkan China atau Rusia. “Biden juga khawatir bahwa Jerman telah mendorong kembali masalah-masalah seperti proyek pipa Nord Stream 2 yang telah diputuskan Washington untuk menjatuhkan sanksi secara keseluruhan,” sambung Hamdi.

Nord Stream 2, pipa sepanjang 1.200 km yang akan mengangkut gas alam Rusia ke Eropa, sedang dibangun dengan biaya lebih dari 11 miliar dolar AS. Proyek ini sangat penting bagi Uni Eropa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Namun, AS pada bulan April kemarin memperingatkan Jerman bahwa tidak ada ruang kompromi untuk proyek tersebut dan akan menggunakan semua cara untuk menghentikan pembangunannya.

Di tengah kisah spionase, satu negara yang mungkin menjadi tempat paling ketat adalah Denmark. Lars Findsen, mantan direktur FE, tahun lalu diskors bersama dengan pejabat lainnya setelah penyelidikan internal, demikian laporan Radio Danmarks. “Narasi di Denmark tampaknya bahwa ini adalah operasi yang dilakukan oleh badan intelijen tanpa sepengetahuan politisi dan bukan bagian dari kebijakan resmi,” kata Lawson.

Loading...