AS Ingin Matikan ‘Made in China 2025’, Proyek Kuasai Teknologi Dunia

Perdagangan China - www.erabaru.netPerdagangan China - www.erabaru.net

TOKYO – Pasar global saat ini dilanda kekhawatiran mengenai potensi perang dagang antara AS dan . Pasalnya, pada hari Rabu (4/4) kemarin, kedua negara kompak mengenakan tarif impor untuk satu sama lain. Menurut beberapa , kebijakan Presiden AS, Donald Trump, tidak semata-mata untuk mengurangi defisit perdagangan, namun juga mematikan ‘Made in China 2025’, sebuah rencana yang diklaim bertujuan untuk mendominasi industri tinggi dunia.

Seperti dikutip Nikkei, ‘Made in China 2025’ dikatakan sebagai kebijakan industri Beijing yang disetujui pada tahun 2015 lalu untuk fokus pada sepuluh sektor strategis di bidang manufaktur, termasuk robotika, semikonduktor, penerbangan, dan kendaraan energi baru. Tujuan utamanya adalah swasembada, dan telah menetapkan target , seperti kemandirian 70% untuk komponen inti dan bahan dasar dalam industri seperti peralatan aerospace dan manufaktur peralatan telekomunikasi.

“Para pembuat kebijakan China telah tekun mempelajari konsep ‘Industry 4.0’ milik Jerman,” ujar rekan peneliti di Council on Foreign Relations di New York, Lorand Laskai. “Itu menunjukkan bagaimana teknologi canggih seperti sensor nirkabel dan robotika, ketika digabungkan dengan internet, dapat menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam produktivitas, efisiensi, dan ketepatan.”

Apa yang China lakukan, menurut para ahli, adalah mengambil alih pimpinan dalam industri seperti robotika yang terlihat mendorong di abad ke-21. Jika China berhasil mendominasi dunia, menurut para ahli, itu bakal sangat buruk bagi AS. Untuk mengamankan posisi mereka, Washington pun menuduh Beijing terlibat dalam praktik yang tidak adil, seperti pemindahan teknologi secara paksa.

Tetapi, kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Trump tampaknya tidak bakal memperlambat kemajuan teknologi China. Dengan meningkatnya biaya tenaga kerja, Negeri Panda bertekad untuk tetap kompetitif dengan memanjat rantai nilai, dari manufaktur padat karya ke salah satu yang dipimpin oleh teknologi maju. “China juga berpikir bahwa peralihan ke industri yang lebih canggih sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonominya,” timpal ekonom Fujitsu Research Institute, Jianmin Jin.

Negeri Paman Sam mencatatkan defisit sebesar 375 miliar dolar AS dengan China pada 2017. Trump mengatakan, ia ingin mengurangi angka ini hingga 100 miliar dolar AS. Jin sendiri percaya bahwa tarif, jika dikenakan, akan membantu mengurangi defisit. Tetapi, pemerintahan Trump tampaknya lebih peduli tentang kemajuan teknologi China dalam waktu dekat daripada ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara.

Pada hari Rabu kemarin, Kementerian Perdagangan China mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif impor pada produk AS senilai 50 miliar dolar, termasuk kedelai. Langkah ini mengikuti tarif impor 15% hingga 25% atas barang-barang AS senilai 3 miliar dolar AS yang diberlakukan 1 April kemarin, sebagai pembalasan terhadap tarif AS atas impor baja dan aluminium pada bulan lalu.

Namun, banyak ekonom, termasuk Minoru Kaneko, analis di Daiwa Institute of Research dan mantan pejabat perdagangan Jepang, percaya bahwa China akan mencoba bernegosiasi dengan AS untuk menghindari perang dagang penuh. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dilaporkan mempertimbangkan perjalanan ke Negeri Tirai Bambu untuk mengadakan diskusi dengan Liu He, penasihat ekonomi untuk Presiden Xi Jinping.

juga mengamati Forum Boao untuk Asia yang akan diadakan di Pulau Hainan, China selatan pada 8 April hingga 11 April mendatang. Xi diperkirakan akan berpidato di sana dan diharapkan ia akan mengatasi beberapa kekhawatiran AS, seperti akses pasar dan ketidakseimbangan perdagangan. Namun, sedikit yang mengharapkan Beijing secara drastis mengubah peta jalannya untuk memodernisasi industri, mengingat ambisinya untuk menjadi negara adikuasa dan saingan tunggal AS.

Loading...