AS dan China Mulai ‘Akur’, Rupiah Kembali Melemah Terhadap Dolar AS

rupiah - republika.co.idrupiah - republika.co.id

Jakarta rupiah dibuka melemah 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp 13.746 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (28/3). Kemarin, Selasa (27/3), Garuda juga ditutup terdepresiasi 4 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp 13.742 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,39 persen menjadi 89,372 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi Waktu Indonesia Barat lantaran ketenggangan kondisi perdagangan antara Amerika Serikat dan China mulai mereda.

Seperti dilaporkan Xinhua, kekhawatiran terhadap perang dagang menurun usai Wakil Perdana China Liu He melakukan perbincangan melalui telepon dengan Amerika Serikat Steven Mnuchin pada Sabtu lalu, mendesak adanya upaya bersama demi menjaga stabilitas hubungan perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

Pada Minggu Mnuchin mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya bersikap hati-hati dalam mencapai kesepakatan dengan China. “Tidak ada pemenang dalam perang dagang,” ujar Perdana Menteri China Li Keqiang, Senin (26/3) yang berusaha untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan perdagangan China dan AS. Li juga meminta komunitas internasional untuk bersama-sama melindungi sistem perdagangan multilateral dengan berlandaskan pada asas perdagangan bebas, serta menentang proteksionisme dan unilateralisme.

Kurs rupiah sendiri diperkirakan cenderung melemah terhadap rupiah dalam perdagangan hari ini. Menurut Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta, sentimen dalam negeri saat ini masih minim. Sedangkan USD memperoleh suntikan sentimen dari data indeks keyakinan dan data GDP AS yang diprediksi .

“Secara teknikal, pada nilai tukar rupiah terhadap dolar secara Daily terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi penguatan bagi dolar AS terhadap rupiah,” kata Nafan, seperti dilansir Bisnis.

Senada, Ekonom Bank Central (BCA) David Sumual menuturkan jika dolar AS mengalami teknikal rebound. “Sentimen utama masih berasal dari perkembangan isu tarif dagang antara AS dan China. Kabar negosiasi antara kedua negara membuat tensi agak mereda,” ucapnya.

Loading...