AS dan Arab Saudi Sembunyikan Bukti Kejahatan Perang di Yaman?

Perang di Yaman - international.sindonews.comPerang di Yaman - international.sindonews.com

yang sedang berlangsung di telah menyebabkan ribuan warga sipil yang tidak bersalah meninggal dunia. Ironisnya, orang-orang yang menyelidiki kejahatan adalah orang yang sama yang melakukan pengeboman. Selama lebih dari tiga tahun, AS dan dinilai telah menyajikan bukti penyelidikan palsu terkait perang Yaman kepada komunitas internasional.

Human Rights Watch, dilansir TRT World, menemukan bahwa pasukan koalisi AS-Arab Saudi secara rutin mengirimkan pasukan mereka masing-masing, dan melakukan kesalahan yang tidak dapat dibenarkan atas korban mereka. Di sisi lain, mereka menyangkal semua kesalahan, bahkan dalam menghadapi bukti yang tak terbantahkan, yang bertentangan dengan klaim mereka.

“Selama lebih dari dua tahun, Joint Incidents Assessment Team (JIAT) secara kredibel menginvestigasi serangan udara yang diduga melanggar , tetapi para penyelidik (koalisi AS) melakukan lebih dari sekadar menutupi kejahatan perang,” kata Middle East Director for Human Rights Watch, Sarah Leah Whitson. “ yang menjual senjata ke Arab Saudi harus mengakui bahwa penyelidikan palsu koalisi tidak melindungi mereka dari terlibat dalam pelanggaran serius di Yaman.”

Kekejaman koalisi AS-Arab Saudi telah terjadi dalam frekuensi yang besar. 40 anak sekolah Yaman dibunuh, bersama dengan selusin pendamping, oleh rudal AS yang ditembakkan dari perang Arab Saudi pada 9 Agustus. Hampir dua minggu kemudian, serangan udara Arab Saudi lainnya menewaskan 30 warga sipil, termasuk 20 anak-anak, di dekat kota pelabuhan Hodeida pada 24 Agustus. Lebih dari 450 warga sipil tewas selama sembilan hari pertama bulan Agustus, menjadikannya salah satu periode paling mematikan sejak konflik dimulai lebih dari tiga tahun yang lalu.

Pada jenderal militer AS telah memanggil pemerintah Arab Saudi untuk melakukan ‘penyelidikan palsu’ terhadap serangan udara koalisi, dengan Letjen Jeffrey L. Harrigian, komandan udara AS di Timur Tengah, mendesak koalisi Arab Saudi untuk melakukan penyelidikan mengenai kematian warga sipil di bulan Agustus. “Ada tingkat frustrasi yang perlu kami akui. Mereka harus keluar dan mengatakan apa yang terjadi di sana,” kata Jenderal Harrigian baru-baru ini.

Namun, bagaimanapun, penyelidikan independen dan luas terkait perang di Yaman telah dirilis oleh PBB, dan itu berbunyi sebagai kecaman tegas dari semua pihak karena kemungkinan ‘melakukan, dan terus melakukan, pelanggaran dan kejahatan di bawah hukum internasional’. Laporan 41 halaman itu dirilis oleh Group of and Regional Eminent di Yaman, dan disponsori oleh PBB. Para penulis membuat kasus yang meyakinkan bahwa pemboman yang didukung AS di negara termiskin di Timur Tengah itu merupakan kejahatan perang.

Sementara Houthis, Iran, UEA, dan konsorsium kelompok milisi juga mendapat kecaman karena peran mereka masing-masing dalam kontribusi terhadap apa yang telah menjadi krisis kemanusiaan terbesar di dunia, laporan itu terutama mengutuk pengeboman tanpa pandang bulu terhadap pemerintah dan orang-orang sipil serta infrastruktur vital. “Dalam tiga tahun terakhir, serangan udara tersebut telah menghantam daerah pemukiman, , pemakaman, gedung pernikahan, penahanan, perahu sipil, dan bahkan medis,” tulis laporan itu.

Masih menurut laporan yang sama, koalisi telah memberlakukan pembatasan angkatan laut dan udara di Yaman, dalam berbagai tingkatan, sejak Maret 2015. Ada alasan yang masuk akal bahwa pembatasan yang diberlakukan ini merupakan pelanggaran terhadap aturan proporsionalitas hukum humaniter internasional. Selain itu, penutupan Bandara Sana’a adalah pelanggaran perlindungan hukum humaniter internasional bagi yang sakit dan terluka. Tindakan-tindakan semacam itu, bersama dengan maksud yang disyaratkan, bisa menjadi kejahatan internasional.

“Sekarang, kita tahu siapa yang bertanggung jawab, komunitas internasional harus menekan pihak berperang agar menghentikan serangan terhadap penduduk sipil dan infrastruktur sipil,” kata CJ Werleman, seorang jurnalis, penulis, dan analis tentang konflik dan terorisme. “Kongres AS harus segera memutus semua bantuan militer kepada sekutu Teluk Arab mereka sampai konflik itu berakhir, dan perjanjian damai dinegosiasikan.”

Loading...