Hubungan AS-China Memanas, Rupiah Tetap Berakhir Positif

Rupiah - nusantara.newsRupiah - nusantara.news

JAKARTA – Setelah sempat drop di tengah sesi, rupiah ternyata mampu bercokol di area hijau pada perdagangan Jumat (15/5) sore ketika aset berisiko cenderung tertekan tensi hubungan AS-China yang kembali memanas. Menurut laporan Index pada pukul 14.58 WIB, menutup akhir pekan dengan menguat 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.860 per AS.

Sementara itu, yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.909 per dolar AS, menguat 37 poin atau 0,25% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.946 per dolar AS. Di saat bersamaan, mayoritas mata uang Asia terbenam di zona merah, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,22% menghampiri peso Filipina.

“Pergerakan aset berisiko cenderung beragam pada hari ini. Ekspektasi masih memburuknya data-data ekonomi karena wabah COVID-19 telah memberikan tekanan turun untuk aset berisiko,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dikutip Bisnis. “Namun, di sisi lain, mulai aktifnya di beberapa pandemi memberikan sentimen positif ke .”

Dari pasar , indeks dolar AS perlahan menjauh dari posisi tertinggi tiga minggu pada hari Jumat tetapi tampak siap untuk kenaikan mingguan moderat karena meningkatnya ketegangan AS-China dan kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi mengguncang investor. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,260 poin atau 0,26% ke level 100,206 pada pukul 14.56 WIB.

Ketegangan AS dan China semakin memanas. Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengatakan dirinya sedang tidak ingin berbicara kepada Presiden China, Xi Jinping. Menyalin AFP, Trump menyebut dirinya bisa saja memutuskan hubungan AS dan China soal upaya penanganan pandemi virus corona. “Saya punya hubungan yang baik (dengan Xi), tetapi saat ini saya sedang tidak ingin berbicara dengannya,” katanya kepada Fox Business.

Dilansir Reuters, analis valuta asing senior di National Australia Bank, Rodrigo Catril, berpendapat bahwa pasar sedang dalam mode menunggu dan melihat saat ini, menunggu untuk melihat secara khusus apakah ketegangan perdagangan AS-Cina benar-benar meningkat. Namun, seorang pengamat China yang bekerja dengan Trump, Michael Pillsbury, menuturkan bahwa Trump sebenarnya khawatir karena China belum bisa merealisasikan pembelian AS seperti kesepakatan fase pertama.

Loading...