Relasi AS dan China Kembali Hot, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

JAKARTA – tidak memiliki cukup tenaga untuk mengatrol posisi ke zona hijau pada Selasa (23/6) sore ketika hubungan antara AS dan membuat sentimen memburuk, menggerus aset berisiko. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda melemah 12 poin atau 0,08% ke level Rp14.161 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp14.265 per , terdepresiasi 56 poin atau 0,39% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.209 per . Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak mixed, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,37% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,67% menghampiri rupiah.

Dilansir Reuters, sentimen global memburuk setelah Penasihat Perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan bahwa perjanjian perdagangan antara negaranya dan China ‘sudah selesai’. Hal tersebut langsung membuat nilai tukar dolar Australia, yuan Tiongkok, serta mata uang sensitif risiko lainnya melorot tajam.

Meskipun ada beberapa rincian tentang implikasi kebijakan aktual, komentar Navarro membangkitkan kekhawatiran bahwa hubungan yang tegang antara Negeri Paman Sam dan China sekarang dapat memburuk dan mengganggu rantai pasokan dan aliran modal. Navarro menghubungkan sebagian kerusakan itu dengan kemarahan Washington atas Beijing yang tidak membunyikan alarm sebelumnya tentang wabah coronavirus.

“(Kesepakatan) ini sudah berakhir,” ujar Navarro kepada Fox News dalam sebuah wawancara. “Titik balik terjadi ketika AS mengetahui tentang penyebaran virus hanya setelah delegasi China meninggalkan Washington. Saat mereka mengirim ratusan ribu orang ke ini untuk menyebarkan virus itu, dan hanya beberapa menit setelah mereka lepas landas, kami mulai mendengar tentang pandemi ini.”

Hingga awal transaksi hari ini, sebenarnya mata uang berisiko telah didukung dan dolar AS melemah karena bergantung pada harapan pemulihan ekonomi dari pandemi meskipun infeksi meningkat di beberapa bagian dunia. Pedagang membeli taruhan berisiko ketika beberapa kota besar di Amerika Utara, seperti New York dan Toronto, mengurangi lockdown dan membuka kembali ekonomi mereka.

Loading...