AS Cabut GSP India, Indonesia & Thailand Menyusul?

Perang Dagang - bisnis.tempo.coPerang Dagang - bisnis.tempo.co

NEW YORK – AS, Donald Trump, kembali membuat kebijakan kontroversial dengan membuka front perang dagang baru, mengakhiri perlakuan dagang istimewa untuk . AS tampaknya juga berniat untuk memperluas perang dagangnya, dan negara-negara Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand, mungkin bakal mengalami nasib yang sama.

Diberitakan Nikkei, pada hari Senin (4/3) kemarin, US Trade Representative mengatakan bahwa India kehilangan statusnya berdasarkan Generalized System of Preferences (GSP) karena dinilai gagal meyakinkan Washington bahwa mereka akan memberikan ‘akses yang adil dan masuk akal’ ke pasarnya. Sementara. Turki ‘lulus’ dari tersebut karena tingkat ekonominya yang lebih tinggi.

GSP melepaskan untuk lebih dari 3.500 jenis produk, mulai kayu lapis hingga mesin cuci, yang diimpor dari negara yang memenuhi syarat. Skema ini dirancang untuk membantu menumbuhkan penerima manfaat. Musim semi lalu, Kantor AS memprakarsai tinjauan kelayakan GSP untuk India, Indonesia, dan Thailand berdasarkan kekhawatiran tentang kepatuhan terhadap program. Mereka mengatakan bahwa ketiga negara telah menerapkan hambatan yang merusak AS.

“Kami telah membuat kemajuan dalam negosiasi dengan AS menuju ‘solusi yang saling menguntungkan’ untuk mempertahankan perlakuan istimewa,” ujar Reza Pahlevi, atase komersial di Kedutaan Besar Indonesia di Washington, kepada Nikkei Asian Review. “Indonesia selalu melihat dan telah memandang AS sebagai mitra strategis kami untuk saat ini dan di masa depan.”

Pada tahun 2017, India mengekspor barang senilai 5,6 miliar AS ke Negeri Paman Sam dengan bebas tarif, menjadikannya penerima manfaat utama dari perlakuan istimewa ini, diikuti oleh Thailand yang mengirim ekspor 4,2 miliar AS. Sementara, Indonesia adalah penerima manfaat terbesar keempat dengan ekspor senilai 2 miliar AS.

Menteri Perdagangan Indonesia telah mengunjungi Washington untuk merundingkan masalah ini pada bulan Juli lalu dan sekali lagi pada bulan Januari kemarin. Reza menuturkan bahwa Indonesia sangat menghargai fasilitas GSP yang telah disediakan AS, karena skema itu membantu Indonesia sebagai negara berkembang untuk tumbuh dan juga untuk mendukung industri AS.

Ulasan kelayakan GSP untuk India, Indonesia, dan Thailand telah muncul tahun lalu, menyusul beberapa keluhan asosiasi perdagangan AS tentang akses ke pasar negara-negara ini. Produsen susu AS membidik India dan Indonesia, sementara produsen daging babi menargetkan Thailand. Pabrikan perangkat medis juga mengajukan petisi untuk mencegah India menerima perlakuan istimewa dari AS.

Ketegangan perdagangan antara Washington dan New Delhi telah memanas sejak Juni kemarin, ketika India mengumumkan rencananya untuk menaikkan tarif pada 29 barang impor AS sebagai tanggapan atas penolakan Trump untuk membebaskan India dari kenaikan tarif baja dan aluminium. Sejak itu, India menunda tarif yang direncanakan beberapa kali.

Loading...