AS Bakal Usut Pelanggaran Kekayaan Intelektual, China Melawan

Presiden AS, Donald Trump, menandatangani sebuah memorandum - www.straitstimes.comPresiden AS, Donald Trump, menandatangani sebuah memorandum - www.straitstimes.com

WASHINGTON/BEIJING – Pada hari Senin (14/8) kemarin, Presiden AS, Donald Trump, menandatangani sebuah memorandum mengenai penyelidikan atas dugaan pencurian kekayaan intelektual Paman Sam oleh China. Menanggapi hal ini, Negeri Tirai Bambu akan mengambil tindakan untuk membela kepentingannya jika AS merusak hubungan .

Menurut The Staits Times, dalam sebuah laporan Perwakilan Dagang AS (USTR) yang dirilis pada bulan Juli alu, AS menuduh China terlibat dalam ‘aktivitas pelanggaran’, termasuk pencurian rahasia dagang, pembajakan online dan pemalsuan, serta tingginya tingkat produk bajakan ke pasar di seluruh dunia.

Sebelumnya, awal tahun ini, sebuah komisi mengenai kekayaan intelektual AS memperkirakan bahwa tahunan untuk ekonomi AS mengenai barang palsu, perangkat lunak bajakan, dan pencurian rahasia dagang dari semua sumber melebihi angka 225 miliar . Komisi tersebut mengatakan China adalah pelanggar IP utama di dunia.

Negeri Panda memang telah lama mewajibkan perusahaan AS untuk membentuk perusahaan patungan dengan mitra China dan memproduksi beberapa barang di dalam negeri. Meskipun tersebut memaksa perusahaan AS mentransfer beberapa pengetahuan berharga mereka kepada mitra China, perusahaan seperti Microsoft hingga General Motors telah melakukan kesepakatan semacam itu untuk mendapatkan akses ke pasar China yang berjumlah hampir 1,4 miliar orang.

Berdasarkan undang-undang cybersecurity China yang baru, perusahaan teknologi, termasuk Amazon dan Apple, diminta untuk menyimpan data di perbatasan China dan menyerahkan kode sumber dan perangkat lunak enkripsi kepada pemerintah. Hal ini berpotensi memberi akses bagi pemerintah China ke data pribadi dan teknologi eksklusif.

Perusahaan AS lalu mengeluh bahwa pencurian rahasia dagang melalui malware dan ‘tentara bayaran’ cyber makin merajalela. Sekitar 70 persen perangkat lunak yang digunakan di China adalah bajakan, menurut The Software Alliance, sebuah grup perdagangan, meski angka ini turun di tahun-tahun berikutnya.

Presiden Trump pun memberikan perintah yang mengarahkan USTR untuk menyelidiki praktik perdagangan China yang memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan kekayaan intelektual mereka. USTR akan memiliki waktu satu tahun untuk melakukan penyelidikan resmi terhadap kebijakan China mengenai kekayaan intelektual, berdasarkan UU Perdagangan 1974 bagian 301.

“USTR akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melestarikan masa depan AS,” ujar Robert Lighthizer dari USTR. “Namun, kami belum mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyelidikan ini sebelum membuat keputusan.”

Sementara itu, China telah berulang kali menolak usaha pemerintah AS untuk mengambil tindakan terhadap praktik IP mereka dan menegaskan bahwa pihaknya telah melindungi kekayaan intelektual secara ketat. Menanggapi langkah terbaru Trump, Kementerian Perdagangan setempat mengatakan akan mengambil tindakan untuk membela kepentingan mereka jika AS merusak hubungan dagang.

“Jika pihak AS mengabaikan fakta dan tidak menghormati prinsip perdagangan multilateral dalam mengambil tindakan yang merugikan kepentingan perdagangan kedua belah pihak, China sama sekali tidak akan duduk dan menonton,” tegas Kementerian Perdagangan China. “Mau tidak mau, kami akan mengadopsi semua tindakan yang tepat, dan dengan tegas melindungi hak-hak sah China.”

Kantor berita China, Xinhua, juga memperingatkan bahwa untuk sementara, eksportir China bisa menjadi korban pertama yangd menderita sanksi perdagangan, dan ‘rasa sakit’ tersebut akan segera menyebar ke industri dan rumah tangga AS. Namun, China dikabarkan juga bersedia menyelesaikan perselisihan antara kedua belah pihak melalui dialog. Beijing pun menegaskan bahwa isu ini seharusnya tidak terkait dengan masalah Korea Utara.

Loading...