Apresiasi Dolar AS Gebuk Pasar Obligasi Asia dan Amerika Latin

TOKYO – Kenaikan tajam AS sejak Pemilihan AS telah memukul obligasi di berkembang. Jumlah obligasi korporasi jatuh sekitar 70 persen pada bulan November, baik di Asia Tenggara maupun Amerika Latin. Dengan yang enggan mengambil risiko, modal dari pasar berkembang telah “melayang” 24,2 miliar dolar AS.

Perusahaan di Amerika Latin mengeluarkan delapan obligasi dengan total 1,6 miliar dolar AS sepanjang bulan November, 71 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, menurut penelitian Dealogic. Penerbitan ini hanya dilakukan oleh bisnis dengan operasi yang relatif stabil, seperti Banco Macro dari Argentina dan Banco Santander di Chile.

Di Asia, perusahaan di Thailand dan Indonesia serta negara Asia Tenggara lainnya total meluncurkan 2,9 miliar dolar AS obligasi pada bulan November, turun 65 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di Korea Selatan, operator kasino, Paradise, telah membatalkan rencana untuk menerbitkan obligasi sebesar 83,7 juta dolar AS atau 100 miliar won. Sementara, di Timur Tengah, penerbitan obligasi hanya 18 persen.

Tren penurunan obligasi ini disebabkan kondisi keuangan yang tidak stabil sejak Pemilihan Presiden AS. Dolar AS melonjak hampir 13 yen ke level 113,9 selama November, mewakili margin terbesar apresiasi di pasar keuangan sejak Oktober 2008, tepat setelah shock Lehman. Sementara, peso Meksiko turun 9 persen, real Brazil terkulai 6 persen, dan ringgit Malaysia 7 persen.

Dengan kondisi tersebut, untuk perusahaan di kawasan Asia dan Amerika Latin, menerbitkan obligasi dalam mata uang dolar AS akan menimbulkan beban bunga yang jauh lebih berat. “Banyak perusahaan di negara-negara berkembang yang menunggu kebijakan ekonomi yang bakal diterapkan Presiden Donald Trump,” ujar Kepala Departemen Kredit Investasi di Nippon Life Insurance, kata Yasutoyo Takada.

Pada Desember ini, Federal Reserve telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sehingga aliran dana dari negara berkembang ke AS diperkirakan akan terus berlanjut. Meski demikian, ekonomi dunia mulai menunjukkan perbaikan usai harga minyak mentah konsisten bergerak naik. Petroleos Mexicanos (Pemex), perusahaan minyak milik negara Meksiko, menerbitkan obligasi korporasi pada awal bulan ini, sekaligus flotasi pertama oleh sebuah perusahaan Amerika Latin dalam waktu sekitar sebulan.

Loading...