Tunggu Jabatan PM, Anwar Ibrahim Siapkan Reformasi Malaysia

Anwar Ibrahim - international.sindonews.comAnwar Ibrahim - international.sindonews.com

KUALA LUMPUR – Malaysia, Mahathir Mohamad, pernah mengatakan bahwa dia akan menyerahkan kursi orang nomor satu kepada mantan rivalnya, Anwar Ibrahim. Meskipun kabar terbaru menyebutkan bahwa Mahathir belum terlalu terpikir untuk mundur, namun Anwar agaknya sudah berancang-ancang melakukan reformasi, termasuk mengatasi yang melambat, skandal korupsi, hingga hubungan dengan AS.

Dilansir Nikkei, sambil menunggu kebebasan dari penjara karena tuduhan korupsi dan sodomi, Anwar hanya bisa menyaksikan Mahathir mengambil alih kekuasaan sebagai perdana menteri. Sekarang, dia menunggu sekali lagi, kali ini untuk pemenuhan ‘pakta buram’ dengan Mahathir yang menyebutkan bahwa perdana menteri veteran itu seharusnya menyerahkan kekuasaan dalam waktu dua tahun.

Anwar sempat mengatakan, dia masih berharap untuk mengambil alih kekuasaan Mei mendatang, dua tahun setelah pemilihan. Namun, pada bulan September kemarin, Mahathir bilang dirinya mungkin akan tinggal selama tiga tahun lagi, memicu desas-desus bahwa dia tidak ingin menyerahkan jabatan. “Sejauh yang saya ketahui, transisi ini sesuai . Ada tanggal tertentu yang belum dibahas. Namun, ada konsensus umum di antara para pemimpin,” ujar Anwar.

Pengangkatan Anwar sebagai pemimpin akan menandai perubahan signifikan di Negeri Jiran. Meskipun ia sendiri orang Melayu, ia mengepalai Parti Keadilan Rakyat yang multietnis, yang berarti bahwa sebagai perdana menteri Malaysia yang kedelapan, ia juga akan menjadi yang pertama yang tidak memimpin partai etnis pro-Melayu.

Anwar mengaku bahwa ‘prioritas besar’ ketika dia mengambil alih kepemimpinan adalah reformasi ekonomi dan mengurangi ketidaksetaraan. Namun, inti agendanya tetap membangun kesejahteraan ‘berbasis kebutuhan’. Dia berharap untuk membuat kesejahteraan lebih terarah dan efektif, mengurangi ‘hadiah’ uang tunai, dan sebagai gantinya berfokus pada penyediaan hal-hal seperti kredit murah untuk membantu memulai usaha kecil.

Ia berharap langkah-langkah semacam itu, untuk mengurangi ketidaksetaraan secara umum, dapat membujuk pemilih miskin Malaysia untuk mendukung reformasi spesifiknya, bahkan jika itu berarti mengakhiri hak rasial mereka. “Narasinya bukan hanya tentang . Kekhawatirannya adalah bahwa Anda berbicara tentang , elit dan orang kaya terus tumbuh dan ketidaksetaraan melebar,” jelasnya.

Menurutnya, program berbasis ras menjadi sumber utama korupsi, yang mengarah ke apa yang orang Malaysia sebut sebagai ‘kebocoran’, ketika uang berpindah dari kas umum ke para pemimpin bisnis dan kroni Melayu yang terhubung baik dengan rezim lama. “Dibutuhkan kemauan politik yang kuat untuk bertindak, karena membantu orang miskin tidak akan memperkaya Anda,” tandasnya.

Rencana Anwar tentang perbaikan tata kelola memang sulit untuk dijabarkan. Namun, badan-badan seperti Komisi Anti Korupsi Malaysia harus diperkuat. Teknologi dapat meningkatkan transparansi, misalnya dengan memotong penipuan pengadaan publik dan mengurangi pencurian dari subsidi di bidang-bidang seperti pupuk. Meski demikian, pada akhirnya, setiap pembersihan dimulai dengan contoh.

Tantangan Anwar tidak berhenti di situ. Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini memotong proyeksi pertumbuhan Malaysia untuk tahun 2019 menjadi hanya 4,5%, jauh di bawah tingkat yang diharapkan dari Harimau Malaya. -harga komoditas juga telah naik, mendorong ketidakpuasan di antara para pemilih Melayu khususnya, sementara pemerintah berjuang untuk memenuhi target anggarannya.

Perlambatan ini, menurut Donald Hanna, kepala ekonom di CIMB Malaysia, sebagian merupakan sampingan dari upaya anti-korupsi pemerintah. Investigasi pasca-pemilihan menunda atau membatalkan proyek-proyek besar yang disepakati di bawah pemerintahan terakhir, termasuk East Coast Rail Link yang bernilai miliaran dolar AS, yang akhirnya memukul pertumbuhan investasi.

“Mengembangkan dan teknologi digital akan menjadi dua prioritas,” sambung Anwar. “Insentif yang ditargetkan dengan lebih hati-hati dapat membujuk perusahaan global untuk pindah, seperti halnya merampingkan birokrasi. Aset matang di bidang-bidang seperti kesehatan yang dipegang oleh Khazanah Nasional harus dijual, dengan hasil disalurkan ke daerah-daerah dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar, seperti teknologi dan startup.”

Selain itu, hubungan dengan AS tidak kalah rumit. Ia mengakui, dengan Presiden Donald Trump, negaranya memang punya masalah. Pihaknya cenderung tidak setuju dengan Trump tentang sebagian besar masalah hidup dan mati. Pada dasarnya, Anwar kemungkinan bertujuan untuk menjaga hubungan persahabatan dengan China dan AS, menghindari perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri. Namun, dia masih berharap untuk membuat peran untuk dirinya sendiri sebagai juru bicara internasional untuk ide-ide Islam progresif.

Loading...