Antisipasi Potensi Persaingan, BCA Berinvestasi Membesarkan Startups Teknologi Keuangan

teknologi informasi BCA banking@goodlifeBCA

Bank Central dikabarkan berinvestasi 200 miliar rupiah ($15 juta) di perusahaan ( – financial technology). Hal itu dilakukan untuk memperkuat daya saingnya terhadap rival domestik dalam menggunakan startups untuk menjangkau pelanggan perbankan yang sebelumnya dianggap “unbankable.”

BCA merupakan pemilik 100% saham dari perusahaan baru, Central Capital Ventura (CCV), menurut sebuah catatan IDX pada hari Jumat (27/01). CCV ingin berinvestasi dan bekerja sama dengan perusahaan fintech yang akan mendukung ekosistem layanan keuangan BCA serta yang dari anak perusahaannya.

Dengan sekitar 1.200 cabang dan 17.000 ATM di Indonesia, menjadikan BCA sebagai perusahaan perbankan ritel terbesar di Indonesia, dengan dukungan sistem pembayaran yang paling maju. Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, menurut catatan September asetnya telah melampau angka 660 trilyun rupiah.

Potensi Pasar Indonesia untuk Fintech

Tingkat kepemilikan rekening bank di Indonesia masih kurang dari setengah jumlah populasi dewasa. Selain itu, biaya membuka kantor cabang perbankan di daerah pedesaan yang kurang infrastruktur sangatlah mahal. Semakin banyak startups fintech, yang secara masif menggunakan teknologi mutakhir untuk menganalisis kualitas kredit dan proses pembayaran, diharapkan dapat mengisi itu dengan potensi mereka untuk dapat mencapai populasi yag sebelumnya dianggap “unbankable” melalui smartphone.

Pada tahun 2016, Bank Mandiri menyiapkan Rp 500 miliar untuk unit modal ventura Mandiri Capital Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendorong startups fintech, terutama yang mampu menjangkau bisnis kecil. “Berdasarkan studi, ini cukup sulit. 80-90% dari (bisnis) startup gagal,” kata Hira Laksamana, direktur keuangan MCI.

Selain bersaing dengan sesama bank, perusahaan perbankan Indonesia juga menghadapi potensi persaingan dengan perusahaan telekomunikasi dan startups. Pasar Indonesia dianggap cukup berpotensi untuk fintech karena jumlah kepemilikan ponsel jauh melebihi rekening bank. Perusahaan terbesar, BUMN Telekomunikasi Indonesia, memiliki layanan pembayaran berbasis ponsel sendiri serta anak usaha modal ventura disebut Metra Digital (MDI) yang menginkubasi startups “solusi pembayaran”. MDI memiliki kantor di Jakarta, Singapura, dan Silicon Valley, dalam rangka mendukung program inkubasi dan akselerator. (yap/)

Loading...