Anjloknya Rupiah mengekor pada Pelemahan Euro

REZA PRIYAMBADAPosisi kian memburuk terhadap Serikat, hingga akhirnya ditutup pada level Rp 13.335 / USD pada sesi akhir di hari Jumat (12/6). Reza Priyambada, Kepala Riset NH Securities Indonesia (NHKSI) mengemukakan bahwa harapan pada penguatan Rupiah tidak terwujud hingga akhir minggu. “Pelemahan Rupiah terjadi setelah laju Euro kembali ,” tambahnya saat diwawancara oleh awak media, Sabtu (13/6). Pelemahan Euro ini terjadi setelah merebaknya kabar tentang hengkangnya IMF secara tiba-tiba dari pertemuan terkait negosiasi hutang . IMF menilai belum ada kemajuan yang berarti dari untuk menyelesaikan permasalahan hutangnya.

Terkait melemahnya Rupiah, Hary Tanoesoedibjo, CEO MNC Group pun turut angkat bicara. Menurutnya, apapun alasannya Rupiah harus dipertahankan minimal di level 12.000-an. “Tidak ada teori (bahwa) Rupiah menguat itu buruk. Rupiah harus kuat, minimal di angka Rp12.000/USD. Idealnya, Rp 11.000 lebih,” ujarnya saat ditemui pada sebuah acara di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Jumat (12/6).

Hary Tanoesoedibjo (HT) juga menerangkan bahwa posisi Rupiah yang terus melemah lambat laun akan membahayakan perekonomian Indonesia, apalagi basis ekonomi Indonesia masih didominasi oleh sektor . “Selama Rupiah melemah, (keadaan) itu buruk karena kita (pengusaha) pokok,” timpalnya. HT juga menambahkan, masyarakat kelas bawah lah yang paling merasakan dampak buruk dari pelemahan Rupiah dengan menurunnya hidup mereka. “Biaya hidup masyarakat naiknya luar biasa, sedangkan pendapatan turun. Jadi, hidup pasti akan turun,” tambah Hary Tanoesoedibjo.

Loading...