Anjloknya Harga Minyak Untungkan Asia, Tapi Tak Berdampak Signifikan pada Mata Uang

Anjloknya harga minyak mentah dunia ternyata dapat menguntungkan negara-negara di Asia. Pasalnya, harga minyak yang lebih murah akan memangkas subsidi dan bisa menyimpan anggaran pendapatan negara. Tagihan yang rendah juga akan menguntungkan negara-negara seperti dan karena permintaan global yang lesu.

“Ini mungkin bisa membuat beberapa negara keluar dari lesunya pasar. Namun, saya tidak terlalu berharap mereka juga ikut terapresiasi,” kata ekonom senior Asia di Capital Economics Ltd. , Daniel Martin.

Para pembuat kebijakan ekonomi di Asia, termasuk Gubernur Bank Sentra India, Raghuram Rajan, memang telah memperingatkan pasar tentang efek kenaikan suku bunga Fed yang pertama dalam satu dekade terakhir. Namun, kemampuan untuk menghemat minyak bisa membuat negara-negara di Asia memiliki banyak cadangan untuk kelancaran tanpa membahayakan prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Pada dasarnya, hal itu (harga minyak rendah) berdampak positif karena dapat membantu meningkatkan neraca negara,” ujar ekonom Nomura Holdings Inc. di India, Sonal Varma.

Sebagai contoh, di India, penurunan harga minyak lebih dari 60% sejak pertengahan lalu telah memungkinkan Perdana Menteri India, Narendra Modi, membuat beberapa kebijakan penting, seperti meningkatkan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan kereta api. Selain itu, menurut prediksi IMF, tahun ini kesenjangan bruto di India akan turun 1,4% daripada 2012 lalu.

Namun, negara-negara di Asia hanya punya waktu selama 12 bulan untuk “memanfaatkan” anjloknya harga minyak dunia. Pasalnya, menurut Standard Chartered Plc., harga minyak brent akan kembali ke level 75 dolar AS per barel pada akhir 2016, dari harga sekarang yang sebesar 38 dolar AS per barel.

‘Sebelumnya, kami menganggap bahwa harga minyak akan berdampak sama pada semua negara. Namun kenyataannya, ada beberapa negara yang diuntungkan,” jelas ekonom Mizuho Bank Ltd di Singapura, Vishnu Varathan.

Sementara itu, Bloomberg Indeks dalam sebuah laporannya menyebutkan bahwa kinerja dolar AS terhadap mata uang global telah meningkat hampir 11 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Bloomberg memprediksi bahwa nilai 10 mata uang Asia terhadap dolar AS akan jatuh pada tahun ketiga, imbas pertumbuhan ekonomi Cina yang melambat. [blo/apk]

Loading...