Anjloknya Harga Minyak Dunia Pengaruhi Ekonomi di Asia Tenggara

Singapura sumber daya yang tidak mengalami perkembangan telah mengikis laba dari energi di Tenggara dan berdampak pada sektor di Singapura serta sektor perumahan dan otomotif di Malaysia.

Harga minyak mentah New York turun di bawah $ 30 per barel untuk pertama kalinya dalam 12 tahun di awal 2016. Walau terdapat tanda-tanda pemulihan , minyak mentah tetap berada di 40an. Kelebihan pasokan dan rendahnya telah melonggarkan , juga menekankan harga dari sumber daya lain seperti batu bara dan minyak sawit.

Walaupun banyak Asia Tenggara yang mengimpor secara utuh sumber daya tersebut, kemerosotan yang dialami perusahaan-perusahaan energi berimbas pada ekonomi dan menimbulkan reaksi berantai yang negatif.

Di perusahaan minyak negara milik Malaysia, Petronas, laba bersih anjlok 96% tahun ini pada kuartal April-Juni. Output meningkat 3%, tetapi pendapatan turun sekitar 20% karena turunnya harga minak. Petronas telah berinvestasi secara besar-besaran saat harga minyak naik dan kini harus menanggung akibatnya. CEO Wan Zulkiflee Wan Ariffin mengungkapkan jika perusahaan pesimis dengan kondisi ini di masa depan.

Perusahaan minyak Thailand, PTT memperoleh peningkatan laba bersih 5% untuk kuartal April-Juni, namun penjualan menyusut hingga 20%. Pendapatan perusahaan batubara Indonesia, Adaro Energy turun 16% untuk semester Januari-Juni.

Impor minyak mentah China menurun 26% tahun ini untuk periode Januari-Juli. Karena ketidakpastian ekonomi global, maka permintaan juga tidak mungkin untuk mengalami kenaikan yang tajam. Untuk mengembalikan laba, beberapa perusahaan harus mengurangi nilai investasi dan mengambil langkah-langkah restrukturisasi lainnya.

Harga minyak mentah yang saat ini sedang anjlok telah menghambat peredaran uang di seluruh sektor ekonomi dan situasi bisa memburuk jika harga minyak tetap berada pada tingkat rendah.

Di Indonesia yang merupakan negara pengimpor minyak mentah memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi. Namun di Kalimantan yang pertumbuhan ekonominya tergantung pada industri batu bara mengalami masalah. Pertumbuhan di Kalimantan hanya berkisar 2,5%.

Turunnya harga minyak dunia membawa dampak menguntungkan bagi industri makanan dan wisata di Asia Tenggara. Misalnya saja restoran besar Filipina, Jollibee Foods mengalami pertumbuhan laba bersih 17% untuk kuartal April-Juni. Begitu pula dengan maskapai penerbangan AirAsia yang bahan bakarnya bisa ditekan hingga 20% untuk kuartal April-Juni.

Loading...