Angka Pengangguran AS Turun, Rupiah Lagi-Lagi Terlempar ke Zona Merah

Rupiah - www.dbs.comRupiah - www.dbs.com

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Jumat (17/5), dengan pelemahan sebesar 8,5 poin atau 0,06 persen ke level Rp 14.460 per . Sebelumnya, Kamis (16/5), rupiah berakhir terapresiasi sebesar 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 14.452 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dilaporkan naik 0,29 persen menjadi 97,8545 lantaran para pelaku saat ini masih mencerna ekonomi positif yang menunjukkan perumahan dan tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat, demikian seperti dilansir Xinhua melalui Okezone.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran mengalami penurunan tajam sebesar 16.000 menjadi 212.000 pada pekan yang berakhir 11 Mei. Angka ini sekaligus menandai level yang cukup rendah dalam beberapa tahun terakhir.

Di samping itu, Biro Sensus Amerika Serikat juga menyampaikan bahwa data perumahan milik pribadi atau konstruksi rumah baru mengalami peningkatan pada tingkat tahunan sebesar 1.235.000 pada bulan April. Level tersebut naik 5,7 persen dari perkiraan bulan Maret 2019 lalu yang direvisi di angka 1.168.000.

Di sisi lain, meskipun sempat rebound di perdagangan kemarin, nilai tukar mata uang Garuda masih rawan terkoreksi terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Menurut Ekonom Bank Central Asia David Sumual, rupiah kemarin menguat karena kabar bahwa Presiden AS Donald Trump diprediksi akan menunda keputusan penerapan di sektor otomotif dalam 6 bulan ke depan. Kabar ini dinilai dapat sedikit meredam ketegangan perang dagang dengan China selama beberapa pekan belakangan.

David juga beranggapan bahwa keputusan Bank yang tetap mempertahankan acuan di level 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini tak membawa dampak yang terlalu signifikan untuk rupiah. “Hasil RDG masih sesuai ekspektasi para pelaku pasar,” ungkap David, seperti dilansir Kontan.

Oleh sebab itu, ia menilai rupiah hari ini kemungkinan akan kembali melemah. Selain karena defisit neraca dagang yang membengkak, pengaruh sentimen negatif dari global pun juga turut menyeret rupiah ke zona merah. Pasalnya data penjualan ritel China hingga bulan April 2019 hanya tumbuh 7,2 persen. “Kalau yuan melemah, biasanya mata uang emerging market lainnya ikut melemah,” tandasnya.

Loading...