Anggaran Rumah Tangga Rendah, Malnutrisi Ancam Indonesia dan Dunia

Berbelanja Kebutuhan Rumah Tangga - www.quickanddirtytips.comBerbelanja Kebutuhan Rumah Tangga - www.quickanddirtytips.com

JAKARTA – Panen dan persediaan yang cukup besar memasuki tahun 2020 mungkin telah membantu dunia menghindari kekhawatiran keamanan pangan yang dipicu pandemi COVID-19. Meski demikian, hal tersebut tampaknya tidak cukup membantu lantaran banyak tangga yang tidak memiliki cukup anggaran untuk membeli , salah satunya akibat kebijakan lockdown yang membuat mereka tidak bisa bekerja atau malah kehilangan pekerjaan, sehingga ancaman malnutrisi tetap membayangi.

Dilansir dari , krisis bahan pokok seperti yang terjadi pada 2007-2008 mungkin dapat dihindari saat dunia dilanda wabah . Namun, hal tersebut tidak lantas membuatnya bebas dari kepanikan. Kebutuhan gizi tetap tidak tercukupi, karena pekerja migran yang harus berdiam diri di rumah, anak-anak yang tidak diperbolehkan datang ke sekolah, serta banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka, baik di pasar negara berkembang maupun yang sudah maju.

“Namun, sistem global telah terbukti sangat tangguh secara keseluruhan, dengan yang berkelanjutan dan kerjasama internasional yang berlaku,” tutur Aurelia Britsch, kepala penelitian komoditas di Fitch Solutions. “Stok makanan yang melimpah dan harga yang rendah membantu. Gambarannya mungkin akan sangat berbeda seandainya virus corona melanda pada tahun 2011. Ini adalah pencapaian yang bisa disambut baik, mengingat empat perlima dari kita masih diberi makan, setidaknya sebagian oleh impor.”

Kabar buruknya adalah bahwa tekanan tidak mereda. Harga masih rendah, walau China telah meningkatkan pembelian akhir-akhir ini, membuat produksi daging babi kembali normal setelah wabah demam babi Afrika. Cuaca yang tidak sesuai musim di AS telah merusak prospek panen di sana, sedangkan kekeringan melanda Rusia dan Amerika Selatan. Biaya pangan global yang terkendali tidak menghentikan lonjakan inflasi di India, Pakistan, dan tempat lainnya, karena ada gangguan pasokan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah meskipun produksi dan stok makanan tetap mencukupi, tidak demikian dengan anggaran . Bahkan, sebelum pandemi, dunia sudah kelaparan. Sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan Juli lalu oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dan lainnya memperkirakan hampir 690 juta orang kekurangan makan pada tahun 2019, naik 10 juta dari tahun sebelumnya, dan hampir 60 juta dalam lima tahun. Hampir 750 juta dari kita, atau satu dari 10 orang, tidak memiliki akses memadai ke makanan.

Pandemi telah membuat rasa sakit itu lebih akut, terlebih di pasar negara berkembang yang memiliki banyak pekerja informal dan migran. Bank Pembangunan Asia memperkirakan pada bulan Agustus kemarin bahwa ekonomi global dapat kehilangan lebih dari 100 miliar dolar AS dalam pengiriman uang pada tahun 2020. Khusus di Asia dan Pasifik, transfer uang bisa turun hingga seperlima di bawah level 2018, sebagian besar karena jumlah yang lebih rendah dari Timur Tengah. Pariwisata dan rekreasi, penghasil yang signifikan bagi banyak negara, telah terpuruk, sedangkan ekonomi pengekspor minyak merana karena harga bahan baku tersebut terus melorot.

Negara-negara seperti Indonesia dan Brazil menghadapi beban ganda dengan populasi yang kekurangan makan dan kelebihan berat badan, karena makanan ultra- yang murah. Ini sebenarnya adalah bom waktu malnutrisi bagi masyarakat dan ekonomi global yang semakin memburuk di bawah tekanan tahun 2020. Secara sederhana, makanan bergizi terlalu mahal bagi lebih dari 3 miliar orang. Laporan PBB menetapkan harga pola makan sehat, dengan produk susu, buah, nabati, dan protein, lima kali lipat dari harga pemenuhan kebutuhan energi dengan pati.

Masalah dengan malnutrisi adalah bahwa kesehatan dan konsekuensi ekonomi yang lebih luas tetap ada. Studi akademis beberapa dekade sudah menunjukkan, perlu sejumlah biaya untuk warga negara yang kekurangan makan dan kelebihan berat badan, paling tidak karena penyakit seperti diabetes. Bank Dunia sebelumnya telah menetapkan angka untuk Indonesia sebesar 2% hingga 3% dari PDB. Di luar biaya rumah sakit, ada potensi anak hilang pertumbuhannya, dipengaruhi pola makan yang buruk. Stunting, penanda kurang gizi, cenderung berkorelasi dengan lemahnya perkembangan kognitif dan potensi penghasilan.

“Makanan gratis untuk anak-anak sekolah adalah awal yang baik. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Lancet mengutip peningkatan indeks massa tubuh dan tinggi badan dari program sarapan di sekolah,” tutur Clara Ferreira Marques, kolumnis Bloomberg Opinion. “Studi yang dilakukan di Guatemala, Indonesia, dan Nigeria menunjukkan bahwa manfaat proyek semacam itu untuk memperbaiki pola makan melebihi biayanya, berkat peningkatan pendidikan, penghasilan di masa depan, dan pencegahan kematian dini karena obesitas. Di Indonesia, pengembaliannya bahkan lebih dari empat kali lipat.”

Loading...