Anggaran Belanja AS Belum Jelas, Rupiah Menguat 22 Poin Terhadap Dolar AS

rupiah - business.inquirer.netrupiah - business.inquirer.net

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (25/1) dengan penguatan sebesar 22 poin atau 0,17 persen ke level Rp 13.292 per AS berdasarkan dari Index. Sebelumnya, Rabu (24/1), Garuda berakhir terapresiasi 0,13 persen atau 17 poin menjadi Rp 13.314 per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.309 hingga Rp 13.334 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau melemah sebesar 1 persen menjadi 89,225 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (pukul 15.00 waktu setempat/20.00 GMT). Pelemahan dolar AS ini dipicu pernyataan Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin yang mengungkapkan jika AS menyambut baik penurunan mata uang dolar AS.

Dalam Forum Dunia (World Economic Forum) Mnuchin memaparkan jika pelemahan dolar AS itu baik bagi para eksportir AS, sehingga ia merasa tak khawatir dengan melemahnya dolar AS belakangan ini. Di sisi lain, tren penguatan rupiah selama beberapa waktu terakhir diperkirakan akan segera berakhir dan membuat rupiah berpeluang untuk mengalami koreksi.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra menuturkan jika sejak kemarin indeks dolar AS masih anjlok karena belanja Amerika Serikat untuk tahun 2018 masih belum jelas. “Senat AS baru menyetujui hingga 8 Februari, sisanya belum pasti,” jelas Putu, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Rully Arya Wisnubrata berpendapat bahwa dollar AS turut terpengaruh oleh data ekonomi zona Eropa yang positif. Indeks Flash Service PMI Eropa pada Januari 2018 dilaporkan bertengger di angka 57,6. Data tersebut menunjukkan level yang tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 56,6.

Mata uang rupiah sepanjang perdagangan hari ini diprediksi akan banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Para pelaku diperkirakan tengah mencermati langkah kebijakan moneter dari petinggi European Central Bank (ECB) terkait suku bunga rencana tapering off. Sedangkan dari dalam negeri sendiri masih belum ada sentimen pendukung yang dapat mempengaruhi gerak rupiah di spot.

Loading...