Aliran Dana Keluar Makin Besar, Pasar Negara Berkembang Kian Terpuruk

Hong Kong – Sejak terpilih menjadi presiden AS pada November lalu, banyak investor yang mulai menanamkan modal mereka pada dan berharap Amerika Serikat akan memimpin pemulihan .

saham di , AS, dan Jepang mulai tinggi tahun 2017 ini dan menandai kontras dengan awal 2016 lalu saat pasar khawatir tentang ekonomi yang akan mendatangkan malapetaka di seluruh dunia.

“Kami melihat percepatan peningkatan pertumbuhan nominal, upah, dan inflasi secara global pada tahun 2017 yang dipimpin oleh AS,” ungkap BlackRock, perusahaan manajemen aset asal Amerika, Selasa (3/1).

pasar naik walaupun ekonomi AS masih belum benar-benar pulih. Investor percaya Trump akan mencoba untuk menghabiskan dana besar pada sementara ia juga akan secara signifikan memotong pajak.

Rotasi besar saat ini didasarkan pada harapan baru. Investor mulai suka dengan ekuitas yang mungkin tumbuh setelah stimulus Trump terkait anggaran belanja dan pemotongan pajak. Selain itu ada faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi meningkatnya sentimen pasar. Musim belanja saat liburan baru-baru ini mendatangkan permintaan yang tinggi untuk kebutuhan logistik besar seperti FedEx. Jika belanja konsumen kuat akan meningkatkan sentimen bisnis.

Namun tentu saja hal ini berbeda dari negara-negara berkembang. Banyak modal yang telah keluar dari pasar negara berkembang sejak bulan November 2016 lalu. Usai bulan lalu The Fed menaikkan suku bunga, mata uang di negara-negara berkembang pun semakin terpuruk.

Menurut Bank for International Settlements, rasio utang perusahaan terhadap PDB negara-negara berkembang melonjak 110% pada tahun 2015 dari angka di bawah 60% pada 2006. Jumlah pembayaran negara-negara berkembang antara 2016-2018 diperkirakan meningkat rata-rata 40% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa investor mulai menarik uang mereka keluar dari negara-negara berkembang setelah menghadapi kesulitan keuangan.

Loading...