Akuisisi Proton oleh Geely Akhiri Polemik Mobil Nasional Malaysia

Perjanjian final telah ditandatangani antara DRB-Hicom dan Zhejiang Geely Holding Group Co. Malaysia berharap dan perusahaan mobil terbesar asal itu mulai menjalankan kemitraan strategis yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

“Polemik tentang hilangnya kedaulatan, menyerahkan identitas mobil nasional dengan menjualnya ke , harus dihentikan karena itu merupakan tuduhan politik yang tidak berdasar dan dimaksudkan untuk meruntuhkan keinginan pemerintah menyelamatkan Proton”, dikutip dari kantor berita Pemerintah Malaysia Bernama.

Langkah divestasi Proton ditempuh untuk menyelamatkannya dari gejolak keuangan yang muncul sebagai hasil dari model yang tidak berkelanjutan sejak awal. Perjanjian ini diharapkan tidak hanya akan membuka peluang yang baik untuk kedua perusahaan, tetapi juga memberikan kontribusi untuk kebangkitan industri Malaysia dan munculnya merek lokal di wilayah Asia Tenggara.

Jalan masa depan untuk Proton kini lebih jelas. Proton ditargetkan kembali memperoleh dominasi di domestik dari hanya 12 persen saat ini. Kapasitas pabrik di Tanjung Malim akan dimaksimalkan untuk menjadikan sentra Geely di wilayah tersebut. Jika ada kelebihan kapasitas, pabrik juga akan diberikan kesempatan untuk merakit mobil Volvo. Geely saat ini juga memiliki Volvo, merk mobil ternama asal .

Pabrik Proton Tanjung Malim memiliki kapasitas untuk memproduksi satu juta mobil setiap tahun, namun saat ini hanya menghasilkan 72,000 mobil pada 2016. Perusahaan ini melaporkan kerugian sebesar 1 miliar.

Jumat lalu (23/06), DRB-Hicom menandatangani perjanjian definitif dengan Zhejiang Geely Holding untuk menjual angka 49,9 persen saham Proton untuk konglomerat Cina , yang melibatkan suntikan dana dari RM 170.3 juta. Ini termasuk RM290 juta untuk model Geely Boyue, yang akan menjadi model pertama dari SUV Proton hasil dari kemitraan.

Loading...