Imbas Aktivitas Manusia dan Pemanasan Global, Komodo Terancam Punah

Komodo Yang terancam punah - lokadata.id

MARSEILLE – International Union for the Conservation of Nature (IUCN) yang berlangsung di Marseille, Prancis baru-baru ini mengungkapkan bahwa komodo yang hidup di Indonesia terdaftar sebagai ‘terancam punah’ dalam pembaruan Red List satwa liar. Lembaga tersebut mengatakan, dampak destruktif aktivitas terhadap yang semakin dalam merupakan ancaman eksistensial yang setara dengan pemanasan global.

Seperti dilansir dari TRT World, sekitar 28 persen dari 138 ribu yang dinilai IUCN kini terancam punah selamanya. Selain komodo, IUCN juga memperingatkan bahwa penangkapan ikan berlebihan mengancam kehidupan hampir dua dari lima hiu. Red List untuk Threatened Species pun menyoroti empat tuna yang ditangkap secara komersial menuju kepunahan setelah satu dekade upaya untuk mengekang eksploitasi berlebihan.

Pesan utama dari Kongres IUCN adalah bahwa punahnya spesies dan perusakan ekosistem merupakan ancaman eksistensial yang setara dengan pemanasan global. itu sendiri telah mengancam masa depan banyak spesies, terutama dan endemik yang hidup di pulau-pulau kecil atau di titik-titik keanekaragaman hayati tertentu.

Spesies komodo, kadal hidup terbesar, yang hanya ditemukan di Taman Nasional Komodo dan terdaftar sebagai Warisan Dunia, dikatakan semakin terancam akibat dampak perubahan iklim. Naiknya permukaan laut diperkirakan akan menyusutkan habitat kecilnya, setidaknya 30 persen selama 45 tahun ke depan, selain jejak manusia yang semakin meluas.

“Gagasan bahwa hewan prasejarah ini telah bergerak satu langkah lebih dekat ke kepunahan sebagian karena perubahan iklim adalah sangat menakutkan,” kata Andrew Terry, Direktur Konservasi di Zoological Society of London. “Penurunan (populasi) mereka adalah seruan keras agar alam ditempatkan di jantung semua pengambilan keputusan pada pembicaraan iklim yang genting di Glasgow.”

Sementara itu, berdasarkan survei hiu dan pari paling komprehensif yang pernah dilakukan, diketahui bahwa 37 persen dari 1.200 spesies yang dievaluasi sekarang diklasifikasikan sebagai terancam punah secara langsung, termasuk dalam salah satu dari tiga kategori, yakni rentan, terancam punah, atau sangat terancam punah.

“Itu sepertiga lebih banyak spesies yang berisiko daripada hanya tujuh pada tahun lalu,” kata Profesor Nicholas Dulvy dari Universitas Simon Fraser, penulis utama studi yang diterbitkan untuk mendukung penilaian Red List. “Status konservasi kelompok secara keseluruhan terus memburuk, dan risiko kepunahan secara keseluruhan meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan.”

Sonja Fordham, Presiden Shark Advocates International, menambahkan bahwa ikan Chondrichthyan, kelompok yang sebagian besar terdiri dari hiu dan pari, penting bagi ekosistem, , dan budaya. Menurutnya, dengan tidak membatasi tangkapan secara memadai, manusia telah membahayakan kesehatan laut dan menyia-nyiakan peluang untuk perikanan berkelanjutan, pariwisata, tradisi, dan ketahanan pangan dalam jangka panjang.

Sebagai langkah penyelamatan, IUCN secara resmi meluncurkan ‘status hijau’, yakni standar global pertama untuk menilai pemulihan spesies dan mengukur dampak konservasi. Sebelumnya, upaya untuk menghentikan penurunan ekstensif dalam jumlah dan keanekaragaman hewan dan tumbuhan sebagian besar telah gagal.

Pada tahun 2019 lalu, para ahli keanekaragaman hayati PBB sudah memperingatkan bahwa satu juta spesies berada di ambang kepunahan, meningkatkan momok bahwa planet ini berada di ambang peristiwa kepunahan massal keenam dalam 500 juta tahun. Kongres IUCN secara luas dipandang sebagai tempat uji coba bagi perjanjian PBB pada pertemuan puncak di Kunming, China, Mei 2022 mendatang, untuk menyelamatkan alam.

Loading...