Aktivitas Impor Lesu, Kredit Valas Ikut Anjlok

Jakarta – Berdasarkan Otoritas Jasa (OJK), pertumbuhan kredit susut semester I-2016 mengalami penurunan 7,76% dibanding tahun lalu. kredit sebesar Rp 593,61 triliun, sementara itu secara year to date (ytd), kredit 6,84%.

Deputi Senior (BI), Mirza Adityaswara menuturkan jika penurunan kredit valas di bank-bank umum dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah rendahnya kegiatan .

“Tahun 2015 turun sehingga kebutuhan debitur membayar impor dengan valas juga turun. Sehingga kredit valas turun,” jelasnya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (7/10).

Faktor kedua dipicu oleh aturan dari pihak BI yang menetapkan kewajiban agar digunakan untuk transaksi di dalam negeri. Aturan BI tersebut resmi diumumkan pada akhir tahun 2014 dan efektif dilaksanakan mulai 1 Juli 2015. Hal itulah yang mengakibatkan para pengusaha mengubah pola transaksi mereka.

Meski demikian, kredit rupiah mengalami kenaikan. Menurut Mirza, dana pihak ketiga dan kredit rupiah mengalami pertumbuhan sekitar 5%, sedangkan pertumbuhan kredit nasional berada pada rentang 7-9%.

“Tapi, karena kredit valasnya itu turun, DPK (simpanan) valasnya itu turun juga sehingga secara year to date (pertumbuhan) kreditnya baru tumbuh sekitar 2,5 persen sampai Agustus,” paparnya.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi kredit perbankan tercatat Rp 4.099 triliun atau tumbuh 8% (YoY) pada akhir Mei 2016, lebih tinggi dari bulan sebelumnya, yakni 7,7% (YoY).

Pertumbuhan kredit meningkat pada Kredit Kerja (KMK), sedangkan operasi keuangan pemerintah pusat pada Mei 2016 tumbuh 48,5% (YoY) menjadi Rp 542,2 triliun, naik dari bulan sebelumnya yang mengalami pertumbuhan 22%.

Loading...