Aksi Profit Taking KO Dolar, Rupiah Menguat di Akhir Pekan

rupiah - poskotanews.comrupiah - poskotanews.com

Aksi profit taking yang dilakukan terhadap AS mampu dimanfaatkan untuk melenggang cukup mulus di zona hijau sepanjang akhir pekan (22/6) ini. Menurut Index pukul 15.41 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat 16 poin atau 0,11% menuju level Rp14.086 per AS.

Sebelumnya, rupiah harus ditutup anjlok 170 poin atau 1,22% di posisi Rp14.102 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (21/6) kemarin. Pagi tadi, mata uang NKRI mampu bangkit dengan dibuka naik tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.100 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot relatif bergerak cukup nyaman di teritori hijau, mulai pagi hingga sore.

“Kami tidak berekspektasi bawah rupiah akan kembali tertekan setelah libur panjang Lebaran karena kemarin sudah overshoot,” tutur Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank , Nanang Hendarsah, seperti dilansir Bisnis. “Hari ini, pergerakan rupiah sudah kembali normal, menyesuaikan dengan kondisi global.”

Dari global, indeks dolar AS terpantau bergerak mundur dari level tertinggi 11 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Jumat, karena para investor mengambil keuntungan setelah rally sebelumnya. Mata uang Paman Sam melemah 0,058 poin atau 0,06% ke level 94,804 pada pukul 10.18 WUB, usai sebelumnya sempat menyentuh posisi 95,533 atau level tertinggi sejak akhir Juli 2017.

Seperti diberitakan Reuters, indeks manufaktur di Atlantik Tengah menurut wilayah Philadelphia turun ke level terendah dalam 1,5 tahun, meningkatkan kekhawatiran tentang terbesar di dunia dan mendorong beberapa investor untuk melakukan aksi profit taking terhadap greenback. Indeks pada kegiatan bisnis Atlantik Tengah turun menjadi 19,9 pada Juni dari 34,4 pada Mei, penurunan paling tajam sejak Januari 2014.

Menurut kepala strategi valas di Mizuho Securities, Kengo Suzuki, indeks Philly Fed yang lemah memperkuat kekhawatiran bahwa perang perdagangan Presiden Donald Trump akan melukai prospek ekonomi AS dan memperburuk suasana. Sementara, ahli strategi makro di NatWest Markets, Brian Daingerfield, menambahkan bahwa pasar cukup sensitif terhadap data aktivitas bisnis akhir-akhir ini dan melihat kelemahan dalam dolar AS.

Loading...