Aksi Profit Taking Bebani Dolar, Rupiah Melenggang di Akhir Oktober

Aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan para pelaku pasar terhadap dolar AS menguntungkan rupiah, sehingga mata uang domestik mampu melaju mulus di zona hijau dari awal hingga akhir perdagangan. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI berhasil menutup transaksi di akhir Oktober 2017 ini dengan penguatan sebesar 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.563 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah berakhir 27 poin atau 0,20% di Rp13.582 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (30/10) kemarin. Kemudian, tren positif mata uang Garuda berlanjut pagi tadi dengan dibuka menguat 20 poin atau 0,15% menuju level Rp13.562 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.541 hingga Rp13.580 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau melemah setelah sebelumnya mengalami pekan terbaiknya, yang lantas mendorong investor melakukan aksi ambil untung dengan menjual greenback. Pada akhir perdagangan di New York hari Senin atau Selasa pagi WIB, mata uang Paman Sam terpantau turun terhadap sejumlah mata uang utama dunia, seperti euro, pound sterling, franc Swiss, dolar Australia, serta dolar Kanada.

Gerak dolar AS makin terbebani usai kabar yang menyebutkan mantan manajer kampanye Presiden didakwa melakukan pencucian uang dalam penyelidikan federal terhadap campuran tangan Rusia di Pemilu Presiden 2016 lalu. Sebelumnya, greenback telah mengalami tekanan imbas laporan bahwa Trump akan memilih Jerome Powell sebagai Gubernur The Fed berikutnya.

Di samping itu, sentimen positif terhadap mata uang Garuda datang dari rilis FDI (foreign direct investment) kuartal ketiga 2017 yang mencatat penanaman modal asing di Air 13% atau sebesar Rp111,7 triliun, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang hanya mencapai 10,6%. Sebagian besar FDI pada kuartal tersebut untuk industri logam, mesin, elektronik, dan pertambangan.

“Rupiah menerima sokongan setelah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis kenaikan investasi asing di kuartal III 2017 sebesar 13% menjadi Rp111,7 triliun,” kata Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto. “Di samping itu, aksi ambil untung investor terhadap mata uang dolar AS juga turut menopang rupiah.”

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di Rp13.572 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 8 poin atau 0,06% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.580 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia berhasil mengungguli greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,37% dialami won Korea Selatan.

Loading...