Terkena Aksi Jual, Rupiah Berakhir Melemah Tajam

rupiah - kumparan.comrupiah - kumparan.com

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk keluar dari zona merah pada Selasa (2/9) sore, salah satunya karena terkena aksi jual investor seiring dengan kekhawatiran pasokan mata uang yang akan membeludak. Menurut catatan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah tajam 172,5 poin atau 1,18% ke level Rp14.745 per dolar AS.

Menurut analisis CNBC , pelemahan rupiah salah satunya disebabkan oleh aksi jual para investor. Pasalnya, masih ada peluang meminta bantuan Bank untuk membiayai defisit , setidaknya hingga tahun 2022. Jika bank sentral masuk, pasokan rupiah akan membeludak sehingga membuat investor melakukan aksi jual mencegah turun drastis.

Sementara, dari global, indeks dolar AS mampu memantul dari posisi terendah pada hari Rabu, karena data AS menunjukkan aktivitas manufaktur yang kuat. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,039 poin atau 0,04% ke level 12.26 WIB, setelah sempat menurun sebesar 1% sepanjang pekan kemarin imbas kebijakan Federal Reserve yang akan lebih fokus pada inflasi rata-rata dan lapangan kerja yang lebih tinggi.

Data ekonomi yang diterbitkan pada hari Selasa (1/9) waktu setempat menunjukkan aktivitas manufaktur AS mengalami percepatan ke level tertinggi hampir dua tahun pada bulan Agustus di tengah lonjakan pesanan baru, dengan pembacaan dari Institute for Supply Management mencapai level tertinggi sejak November 2018. Data AS mengikuti indikator manufaktur China dan Eropa yang sama-sama menunjukkan kenaikan.

“Kalau dipikir-pikir, ini adalah data yang kuat,” papar ahli senior di Okasan Online Securities, Rikiya Takebe, seperti dilansir dari Reuters. “Namun, jika Anda melihat lebih dekat ke delapan belas industri, tidak semuanya mencatat pertumbuhan dalam pekerjaan, tidak ada peningkatan dalam pekerjaan secara keseluruhan.”

Sebelumnya, harus menurun sejak pekan lalu, menyusul perubahan kebijakan The Fed yang memiliki kelonggaran untuk mempertahankan suku bunga AS lebih rendah lebih lama, yang akhirnya telah mendorong para pedagang untuk menjual mata uang Paman Sam. Pandangan itu diperkuat oleh Gubernur The Fed, Lael Brainard, yang mengatakan bank sentral perlu mengeluarkan lebih banyak stimulus untuk membantu ekonomi mengatasi dan memenuhi janji baru The Fed.

Loading...