Aksi Boikot Israel, BDS, Terancam Kebijakan Donald Trump

Israel - www.jpost.comIsrael - www.jpost.com

Aksi aktivis asal AS dalam gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) untuk menentang Israel agaknya sekarang menghadapi masa-masa yang sulit di bawah kepresidenan Donald Trump. Para dan akademisi yang terlibat di dalamnya telah mendapat serangan pencemaran nama baik dan seringkali mereka dituduh anti-Semitisme dan terkait dengan Hamas.

Dilansir dari TRT World, munculnya gerakan BDS yang anti-kekerasan bertepatan dengan meningkatnya popularitas Facebook dan Twitter. Setelah orang hanya mengandalkan massa untuk informasi, situs jejaring sosial memungkinkan aktivis untuk mem-posting foto-foto Israel ‘bersorak’ di atas kematian dan kehancuran di Palestina selama Operasi Cast pada tahun 2008-2009.

Namun, BDS belakangan didiskreditkan karena pergerakan itu dinilai berubah secara bertahap dan perlahan membawa isu kekejaman Israel ke arus utama, menekan pemerintah dan organisasi untuk memboikot negara tersebut. Seringkali, aktivis BDS dituduh anti-Semitisme dan terkait dengan Hamas. Situs Canary Mission bahkan mem-posting informasi pribadi mahasiswa yang terkait, memperingatkan agar tidak mempekerjakan mereka.

Pemerintah Israel yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggunakan otot diplomatik mereka untuk melawan BDS. Negara ini telah melobi banyak negara bagian AS untuk memperkenalkan undang-undang yang menghukum Paman Sam yang memboikot -produk Israel. Israel juga berusaha untuk mendapatkan legislasi kontroversial, UU Kesadaran Anti-Semitisme, untuk lolos melalui Kongres AS.

Menurut para ahli, jika RUU disahkan oleh Kongres AS, setiap kritik terhadap Israel dapat dikaitkan dengan anti-Semitisme, merongrong upaya aktivis pro-Palestina. Pemerintah Netanyahu sendiri telah mengalirkan jutaan dolar AS untuk mendanai prakarsa anti-BDS. Kementerian Urusan Strategis dan Diplomasi Publik Israel juga diklaim mendanai perangkat lunak yang mencemarkan nama baik aktivis pro-BDS melalui .

Suatu hari di akhir tahun 2017 lalu, Profesor W.J.T Mitchell, seorang yang vokal menentang agresi militer Israel di Palestina, melihat karikatur dirinya yang digambarkan sebagai simpatisan teroris di berbagai bagian kampus Universitas Chicago, tempat ia mengajar. Orang di balik kampanye poster itu adalah David Horowitz, yang menjalankan situs propaganda anti-Muslim seperti jihadwatch.org, yang dikenal karena membuat panggilan ‘Xenofobik’ untuk mengatai kaum Muslim.

Poster-poster itu juga memuat nama-nama mahasiswa dan dosen, beberapa di antaranya baru saja memulai karir mereka. Penyebutan ‘teroris’ di samping nama mereka dapat merusak prospek pekerjaan mereka di masa depan. “Beberapa dari mereka sangat kesal. Seorang pelajar mengatakan dia telah membuat lebih dari seratus aplikasi dan hanya menerima dua wawancara. Padahal, dia tidak pernah mengalami kesulitan mencari pekerjaan sebelumnya,” kata Mitchell.

BDS mengambil inspirasi dari perjuangan melawan rezim apartheid di Afrika Selatan, yang memisahkan orang kulit hitam dan mendiskriminasi mereka dalam setiap aspek kehidupan. Perusahaan multinasional yang aktif di Afrika Selatan saat itu telah menjadi sasaran khusus untuk aktivis. Sebuah gerakan melawan bank Inggris, Barclays, melihat para pelajar berkampanye untuk penarikan simpanan massal.

Jadi, ketika Israel mulai bekerja pada proyek kereta api ringan di Jerusalem yang terutama bertujuan untuk menguntungkan lingkungan Yahudi, aktivis BDS meluncurkan kampanye melawan Veolia, yang terlibat dengan proyek tersebut. Namun, BDS, bagaimanapun, tidak dapat menghentikan proyek Jerusalem Light Railway (JLR). Perusahaan Perancis lainnya, Alstom, terus menjual mereka untuk mempertahankan jejak.

Israel kini menempati sekitar 60 persen dari wilayah Tepi Barat, sesuatu yang hampir mengubur kemungkinan negara Palestina yang terpisah. BDS sendiri tidak berkampanye di sepanjang aspek politik dari konflik Israel-Palestina. Yang diinginkan mereka adalah perlakuan yang bermartabat terhadap orang Palestina dan Arab Israel.

Di AS dan tempat lain, orang-orang seperti Mitchell dan aktivis Yahudi Israel terus mendukung kegiatan BDS. Tetapi, Presiden Donald Trump membuat segalanya lebih sulit bagi mereka. Meskipun ditentang oleh sebagian besar dunia, Trump tetap mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel. “Mereka menyerang yang paling rentan, yaitu mahasiswa dan dosen,” tutup Mitchell.

Loading...