Akhir Pekan, Rupiah Perkasa Jelang Rilis Data NFP AS

Rupiah - www.indopos.co.idRupiah - www.indopos.co.id

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada perdagangan Jumat (5/4) sore, ketika pasar menantikan laporan pekerjaan AS bulan Maret yang akan dirilis hari ini waktu setempat. Menurut catatan Index pada pukul 15.51 WIB, mata uang Garuda menguat 50 poin atau 0,35% ke level Rp14.133 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.158 per dolar AS, menguat 24 poin atau 0,17% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.182 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,20% menghampiri rupiah.

Dari pasar global, indeks dolar AS beringsut lebih rendah pada hari Jumat, di tengah kabar bahwa sengketa perdagangan yang berlarut-larut antara Amerika Serikat dan China akan segera diselesaikan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,076 poin atau 0,08% menuju level 97,232 pada pukul 12.54 WIB

Seperti diberitakan Reuters, meski terkoreksi tipis, namun greenback naik terhadap yen Jepang, sekitar 0,85% sepanjang minggu ini, didukung seperti permintaan yang luas terhadap aset berisiko. Sebelumnya, perang dagang antara AS dan China telah mengganggu pasar selama tahun lalu, memukul aset berisiko. Namun, pada hari Kamis (4/4) waktu setempat, Presiden AS, Donald Trump, menuturkan bahwa kedua semakin dekat dengan kesepakatan perdagangan.

Saat ini, menantikan laporan pekerjaan AS bulan Maret 2019 yang dijadwalkan akan dirilis pada pukul 12.30 GMT. Menurut ahli strategi senior FX di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa, hasil upah yang kuat akan menjadi pertanda konsumsi swasta yang kuat dan mempercepat rebound dalam imbal hasil Treasury. “Pada gilirannya, memungkinkan dolar AS semakin naik versus yen,” ujarnya.

Sebelumnya, mata uang AS telah merosot ke level terendah setelah penurunan tajam yang dialami imbal hasil Treasury AS, yang disebabkan oleh penghindaran aset risiko, dipicu oleh kekhawatiran pertumbuhan dan kemunduran ekuitas global. Namun, imbal hasil Treasury berhasil rebound, didorong data ekonomi dan optimisme negosiasi perdagangan.

Loading...