Akhir Pekan, Rupiah Menguat Tajam Jelang Libur Lebaran

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

JAKARTA – Rupiah mampu menjaga posisi di teritori hijau pada perdagangan Jumat (31/5) sebelum dalam negeri melakukan libur panjang terkait dengan Hari Raya Idul Fitri. Menurut paparan Index pada pukul 15.26 WIB , Garuda menguat tajam 141 poin atau 0,98% ke level Rp14.269 per dolar AS.

Dari pasar , indeks dolar AS cenderung bergerak lebih rendah pada akhir pekan, setelah ekonomi AS terbaru dilaporkan tidak cukup menggembirakan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,005 poin atau 0,01% menuju level 98,137 pada pukul 11.56 WIB, setelah dibuka di posisi 98,162 atau terdepresiasi 20 poin dari sebelumnya.

Diberitakan Bloomberg, pada Kamis (30/5) waktu setempat, Departemen Perdagangan AS merevisi angka AS turun kurang dari yang diharapkan di tengah konsumsi dan ekspor yang lebih kuat, menunjukkan kekhawatiran eskalasi perdagangan. bruto (PDB) periode Januari-Maret direvisi turun 3,1% dari sebelumnya 3,2%.

Di samping itu, Departemen Tenaga Kerja setempat juga mengatakan bahwa klaim pengangguran awal di negara tersebut, cara kasar untuk mengukur tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK), berada di angka 215.000, naik 3.000 dari tingkat yang telah direvisi minggu sebelumnya. Level pekan sebelumnya sendiri direvisi meningkat 1.000 dari 211.000 menjadi 212.000.

Sementara itu, saham jatuh bersamaan dengan imbal hasil Treasury AS, meskipun penurunan mereda karena perdagangan berkembang, setelah Beijing mengatakan siap untuk membatasi penjualan tanah jarang ke AS jika diperlukan. Sentimen negatif juga datang dari ancaman Presiden Donald Trump yang akan meningkatkan tarif impor untuk Meksiko.

Front baru dengan Meksiko dan ancaman pembalasan dari Negeri Tirai Bambu mengirim imbal hasil Treasury 10-tahun ke posisi terendah dalam 20 bulan. Saham Jepang terpukul, sedangkan gerak saham di Korea, Hong Kong, dan China berfluktuasi. Futures pada Indeks S&P 500 menuju minggu terburuk sejak penurunan pasar global pada bulan Desember.

Pasar sendiri sudah limbung di sepanjang bulan ini, di tengah eskalasi tarif AS terhadap China dan langkah untuk mengeluarkan Huawei Technologies dari bisnis AS. Rencana terhadap Meksiko terjadi setelah administrasi Trump memberi tahu Kongres bahwa mereka bergerak maju untuk perjanjian NAFTA terbaru. “Trump akan habis-habisan, tidak hanya untuk Meksiko dan Kanada, tetapi juga China,” katar ahli strategi makro global di Saxo Capital Markets Pte, Kay Van-Petersen.

Loading...